Skip to content

PENGALAMAN ‘PAKE’ DEREK JALAN TOL

Akhirnya mimpi buruk itu terjadi juga. Pihak bengkel Suzuki sudah warning untuk segera ganti kopling mobil. Berhubung bulan ini baru ganti onderdil yang berhubungan dengan power steering, musti ganti kopling jadi mahal banget… ditotal-total sampe 4.5 juta. Fyuh… Makanya diputuskan ganti koplingnya ntar-ntar aja…

Jadi cerita bermula ketika aku mau bayar tol di pintu tolĀ  TMII. Pas mau bayar, kopling already mati. Mau masuk gigi 1 gak bisa… O no… pasti koplingnya sudah ngambek… Benar aja… Tan tin tun dari mobil di belakang sudah membahana meminta Balenoku segera menyingkir. Untung satpam datang membantu menyingkirkan Si Abu-abu ini. Dengan baik hati Pak Satpam menawarkan untuk memanggilkan mobil derek resmi. Langsung terbayang deh cerita-cerita mengerikan tentang mobil derek di jalan tol. Dengan nada sok tahu aku bilang, “…boleh pak, sampe exit tol terdekat gratis kan?”. Si Satpam bilang, “…lo kenapa gak ke bengkel terdekat aja, Pak!” Semerbak bau korupsi mulai terasa… “gak pak… nanti dari bengkel Suzuki akan derek mobil saya.” baca selengkapnya cerita ini…

Advertisements

PENGAMAT POLITIK KITA SEMAKIN TIDAK INDEPENDENT!

Ada apa dengan para pengamat politik kita? Kenapa mereka sarat dengan muatan ideologi yang dipaksakan kepada seluruh rakyat Indonesia, yaitu ideologi universalitas? Kenapa mereka memaksakan suatu sistem politik atas nama demokrasi? Demokrasi kok maksa…

Simak cuplikan berita dari:

http://www.inilah.com/berita/2008/08/15/43961/jadi-caleg-kok-harus-bisa-ngaji/

Tidak baru sekali ini saja. PKS selalu diolok-olok sebagai partai eksklusif. Para pengamat menganggap hal itu tidak demokratis dan memaksa PKS untuk inklusif. Belum lagi ketika PKS secara intern menginginkan capres Balita (bawah lima puluh tahun). Seluruh pengamat menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak demokratis. Sungguh lucu. PKS melakukan itu kan hanya intern partai saja. PKS inklusif juga urusan dalam partai. Kalau berbicara demokratis, justru perbedaan itu kan inti dari demokrasi. Kalau semua harus universal kenapa ada sistem kepartaian…? Demokrasi macam apa ini memaksakan kehendak…

Rasanya kok ada agenda besar dari pengamat-pengamat politik. Mereka sebagian besar lulusan luar negeri, yang kegiatan saat ini juga didonori luar negeri. Biarkan ketika Megawati yang secara internal partai dipilih secara tidak demokratis (dalam skala interna partai), biarlah partai Islam berasas Islam (memang apa yang salah dengan asas Islam?), biarlah calon independen menjadi calon presiden. Toh rakyay yang akan memutuskan, bukan pengamat politik yang picik yang sempit pemikiran ideologisnya. La kalau rakyat memilih presiden di bawah umur lima puluh tahun, lalu apakah itu tidak demokratis? La kalau ternyata rakyat memilih Megawati yang tidak bisa apa-apa lalu menjadi tidak demokratis? La kalau rakyat memilih Wiranto yang berdarah-darah lalu dianggap tidak demokratis? Tidak ada yang baku dalam politik… Pemaksaan sistem politik universalitas itu yang tidak demokratis. Jangan lagi Saiful Munjani menghujat PKS hanya karena mereka berasas Islam. Jangan pula Yudi Latif memaksakan syarat caleg intern partai islam dengan boleh tidak bisa mengaji (itu urusan intern partai…). Biarkanlah politik berjalan sesuai apa adanya, toh rakyat yang akan memilih… Kalau rakyat memilih partai yang mewajibkan calegnya harus bisa mengaji njuk ngopo? Njuk ora demokratis? Opo maksude? Ketakutan kalau ideologi sekulerisme gagal (padahal itu titipan para pendonor?) Hmm… Kalau penuh kekerasan, itu baru tidak demokratis…

Dasar… pengamat politik mbladusan… keminter…

MUNGKINKAH SERIAL 24 DIANGKAT DARI KISAH NYATA?

Serial 24 season 1, 2, dan 3 menjadi referensi saya tentang bagaimana sebenarnya sebuah intelijen negara bekerja. Lebih dari itu juga, saya selalu meyakini gambaran umum dalam serial ini adalah juga gambaran umum realita kehidupan politik di Amerika.

Coba kita simak dalam Season 2 yang bercerita tentang rencana pengeboman nuklir di salah satu kota di Amerika. Kalau dalam banyak versi film ala Holywood, penjahat pasti kalau bukan orang Islam, ya orang Rusia. Tapi dalam serial ini, diceritakan bagaimana kompleksnya sebuah unit kegiatan terorisme (dalam serial ini, sang jagoan ‘Jack Bauer’ bekerja sebagai intelijen di Contra Terrorist Unit (CTU)). Okelah, serial ini memang hanya rekaan dipaksakan harus terpecahkan dalam waktu 24 jam. Tapi bagaimana otak saya terbuka ketika penggamabaran dalam season 2 ini mirip dengan aksi 911 yang meruntuhkan 2 gedung WTC… Semua orang menyudutkan Islam–sampai sekarang, ribuan nyawa mati sia-sia oleh serbuan militer Amerika. Tapi apakah memang demikian yang terjadi…?

baca selengkapnya artikel ini…

MEJA KERJA – ku!

20 ORANG-ORANG YANG HARUS KITA KASIHANI

Yes, memang tulisan ini sinis dan menyakitkan. Tapi saya harus melakukannya sebagai bagian dari koreksi diri saya pribadi. Mereka ini yang menjadi pembentuk karakter bangsa saat ini (dan tentu saja saya ada di dalamnya). Apa karakter bangsa Indonesia saat ini yang terbaca dalam fikiran anda? Egoisme, ketidakpedulian, korupsi, dan lain-lain…? Poor us. Kita memang patut dikasihani jika memang itu karakter bangsa kita. Berikut 20 orang-orang yang ada dalam fikiran saya. Ya, tentu saja ini klaim pribadi. Dan, siapa yang peduli bahwa tulisan saya ini benar atau tidak. Hey, society. Hope you’re not angry with this.

  1. Pengamen yang selalu berfikir, “…biar gua ngamen yang penting halal!” Are you sure itu halal? Memang yang berhak menilai sesungguhnya adalah Tuhan apakah itu dosa atau tidak, halal atau haram. Tapi ayo kita bedah bersama-sama. Sebuah keluarga yang sedang asyik makan di kaki lima sebuah mal sambil bercerita-cerita yang menyenangkan karena sangat jarang keluarga ini keluar bersama untuk makan (low budget), tiba-tiba datang pengamen coming out of the blue teriak-teriak diiringi genjrengan gitar dengan skill kurang terasah, menyanyikan lagu Indonesia. Percakapan keluarga terpaksa dihentikan. Ibu mencoel tangan sang bapak. Maksudnya ada recehan nggak? Lebih tepat maksudnya adalah punya recehan untuk ngusir pengamen itu gak? Duar… Artinya apa? Sebenarnya, pengamen itu mengganggu. Dia datang tidak diminta dan tiba-tiba mengganggu orang lain. Mana ada melakukan perbuatan tidak menyenangkan itu halal. Dalam KUHP buatan manusia saja perbuatan tidak menyenangkan dikategorikan tindakan pidana. So, fikirkan lagi kalau mengamen itu adalah melakukan sesuatu yang halal. Baca artikel terkait di http://yulian.firdaus.or.id/2005/02/13/pengamen-jalanan/ . baca selengkapnya artikel ini…

KENYATAAN SHOLAT JUMAT DI INDONESIA BELAKANGAN INI!

Wah, sebenarnya sudah lama saya mau tulis tentang hal ini. Entah kenapa, setelah solat Jumat kali ini saya baru sempat. Mungkin ada yang tidak setuju dengan saya. Kalau ada kekeliruan tentang tulisan ini silahkan koreksi, karena saya tidak punya landasan dan dalil yang kuat.

Banyak masjid sudah saya kunjungi untuk solat Jumat. Ada tempat yang jamaahnya membuat solat saya jadi khusuk dan nikmat, sedangkan sebagian besar menimbulkan keresahan saya.

Saya mulai dari yang meresahkan saya saja. Ini ilustrasi saja. Saya sarikan dari banyak kejadian.

1. Well, kotib naik ke mimbar. Waktu saya SMP, saat solat jumat di sekolah ada tulisan di papan yang dikutip dari Hadis Rasulullah “Dilarang bicara, ngobrol, dll saat khotib sudah naik mimbar karena sama saja dengan tidak solat Jumat”. Kurang lebih bahasanya begitu. Saya berasumsi, Sholat Jumat dianggap penting untuk mendengarkan khotbah untuk meng-enhance keIslam-an umat Muslim. Untuk bisa mencapai taraf itu, tentunya jamaah harus konsentrasi mendengarkan kotib. Coba perhatikan di banyak masjid, berapa persen yang memperhatikan isi kotbah? Sebagian besar tidur, sebagian kecil ada yang ngobrol di belakang (ada juga orang-orang dewasa yang melakukan ini–parahnya). Mungkin kebanyakan kotib memberikan materi yang membosankan, tidak siap, tidak mementingkan kepentingan jamaah, hanya baca buku kotbah, atau hanya sekedar menjalankan permintaan takmir masjid. Hmmm, tujuan meng-enhance ke-islaman rasa-rasanya agak ketelikung. baca artikel selengkapnya…

MELAWAN TIRANI BUDAYA BARU INDONESIA

Sulit menyebut atau mendefinisikannya. Tapi bolehlah saya menyebutnya sebagai “BUDAYA BARU” bangsa Indonesia. Baru, karena saya sendiri tidak pernah tahu apakah zaman dahulu bangsa Indonesia memiliki budaya seperti saat ini. Simak hal-hal kecil berikut yang saya anggap sebagai “BUDAYA BARU” bangsa Indonesia.

1. Pernahkah anda naik kereta atau bis kota yang penuh sesak? Pernahkan anda lihat orang-orang muda duduk dengan santainya sementara ibu-ibu dan orang tua bergelantungan di dalam bis kota atau kereta? Sedikit sekali yang mempersilahkan orang tua dan ibu-ibu untuk duduk menggantikan orang-orang muda ini. Begitu sering dan banyaknya kejadian seperti ini menunjukkan ini adalah budaya saat ini. EGOISME.

2. Pernahkan anda melihat sepeda-sepeda motor berhenti di lampu merah tapi tidak di tempat yang sesuai aturan? Mereka berhenti di depan zebra cross bahkan melebihi lampu lalu lintas itu sendiri, sampai mereka tidak tahu kalau lampu sudah berwarna hijau. Jawabannya adalah di setiap lampu merah. Sampai-sampai jika kita ingin berlaku tertib dengan berhenti pada tempatnya kita akan dimaki pengendara lain. Inipun budaya saat ini. MELANGGAR ATURAN.

baca selengkapnya tulisan ini…