Skip to content

MUDIK 2008: CATHATHAN PERJALANAN!

October 7, 2008

Summary:

Tujuan Mudik: Metro, Lampung
Tanggal Keberangkatan: 28 September 2008 (Minggu) atau H-3
Moda Transportasi: Kendaraan Pribadi (ups…mobil kantor maksudnya)

Jam 1/2 8 pagi (28 September 2008)

Perjalanan dari Cibubur ke Stasiun Jatinegara untuk jemput adik dan sepupu yang naik kereta dari Jogja. Perjalanan sangat lancar di tol, tapi seperti biasa sangat ndak lancar di depan stasiun. Bis dan mikrolet menjelang lebaran gak berubah, tetap ‘bedebah’.

Jam 8.15 pagi (28 September 2008)

Perjalanan sesungguhnya dimulai. Kita putuskan langsung masuk tol menuju Merak. Sudah hari Minggu, libur lebaran, masih pagi pula, jalan tol begitu luar biasa menyenangkan. Sepi. Andai Jakarta selalu seperti hari ini.

Kurang Lebih Jam 8.24-an (28 September 2008)

Kita masuk gerbang tol Karang Tengah. Cepat juga ya. Berhubung jalan tol sepi, jadi bisa ‘ngegas’ sampe 120 km/jam. Pengennya lebih dari itu, berhubung pakai mobil kantor yang ber CC hanya 1.300, ya sudah… kecepatan segitu aja mobil sudah oleng. Kurang lebih 5 km dari gerbang tol Karang Tengah ada mobil truk terguling. Sayang gak lihat kejadiannya, tau tau mobil sudah terguling (seperti terlihat pada foto di bawah ini). Penyebab kemungkinan ban pecah.

It’s a little bit scarry juga lihat kejadian kecelakaan di jalan. Apalagi berita-berita seputar arus mudik di teve swasta (maaf, gak pernah nonton teve negeri), kecelakaan mulai ramai di sepanjang jalur mudik dengan tingkat ‘keparahan’ yang memaksa untuk berfikir hati-hati (walau sesaat). Fyuh..

Kurang Lebih Jam 8.40-an (28 September 2008)

Masuk gerbang tol Cikupa. Gerbang tol juga sepi. Tapi, awas… bisa jadi ini jebakan. Seperti tahun sebelumnya, jalan tol sampai Merak memang sepi, tapi di pelabuhan, tumpukan kotak besi berisi manusia (mobil maksudnya) sudah ‘menyampah’ ra nggenah. So, jangan bahagia dulu.

Kita bertiga (The Three Mudikers) sudah memutuskan untuk nggak puasa hari ini. Bodoh memang, tapi pengalaman tahun kemarin, kondisi badan akan punah di pelabuhan Merak, karena menunggu antrian masuk kapal di bawah terik matahari. Jadi, ya sudahlah. Kita siapkan untuk gak puasa hari ini. Jadi, berhentilah kita di sebuah rest area (kilometer berapa ya? lupa) untuk cari makanan.

Weleh-weleh. Jalur mudik, tempat makan kok pada tutup. Ya rumah makan Padang, Solaria, dan lain-lain. Ya wis. Terpaksa cuma berbekal I-Crave. Padahal rencana kita mau beli bekal untuk makan siang di kapal.

Kurang Lebih Jam 9.15-an (28 September 2008)

Hahahaha… Kita bertiga sebagai mudikers bahagia, soalnya jalur lancar. Kita berasumsi puncak mudik sudah berlalu. Sampai kita terbengong-bengong menjelang km 97.5, atau artinya hanya 2.5 km dari pintu tol Merak, tempat berakhirnya tol ini. Kok ada antrean???? Opo kuwi???

Wakkk. Setelah pintu tol kan masih ada kurang lebih 5 km sampai dermaga kapal. Berati lebih parah dari tahun kemaren dong. Tahun kemaren kemacetan parah hanya terjadi di dermaga, gak sampai sini. Ampyun deh. Parah… parah… Kenapa kita pilih mudik hari ini ya…? Suasana kemacetan kurang lebih seperti gambar di bawah ini.

Seperti biasa, kalau ada kemacetan seperti ini, ‘bedebah-bedebah’ megeluarkan sifat aslinya, yaitu: …’bedebah’. Jalu darurat disikat untuk lewat. Seperti ‘dead man walking’ yang berjalan gak pake otak, mobil diarahkan ke jalur darurat. Eh, tau-taunya dari belakang ada sebuah mobil putih VIOS keluaran 2007-an akhir yang ada lampu kelap kelip di atasnya sambil keluarin bunyi sirine lewat. Wow, ternyata si putih ini meminta para mobil di jalur darurat untuk mundur. Wah, bagus bener nih si putih. Sukurin buat para bedebah, mereka harus mundur lebih dari 1 km sepanjang kemacetan untuk masuk jalur sebenarnya… mengantri paling belakang… hahaha. Thanks, si putih.

Fyuh, lama juga macet tanpa berjalan sedikitpun. Orang-orang samapi harus turun dari mobil supaya gak kepanasan. Melas banget pokokke. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9.59. Lama kan…

SNAPSHOT!!! Ih, ada yang merokok. Kok masih ada ya, orang yang pede dengan keegoisannya. Menyebarkan asap berbau tidak enak dari mulutnya yang bau busuk. Kita dipaksa oleh keegoisannya untuk menghisap ‘itu’. Huek… (::seolah-olah ini hal langka–padahal setiap hari kita temui).

SNAPSHOT!!! Ada juga mobil dinasyang dipakai mudik. “Lo, siapa tahu mobil dinas itu memang sedang dinas!” Are you sure??? Dinas kok berisi ayah, ibu, anak-anak dan barang-barang khas mudik. Hey, itu uang saya yang dipakai untuk beli mobil dinas. Saya bayar pajak untuk bayar mobil itu, dan juga gaji kamu, wahai pegawai negeri… Jadi jangan selewengkan uang saya, dammit! Kalo saya bawa mobil kantor kan atas permintaan perusahaan, karena saya memang ada pekerjaan di proyek yang kebetulan proyek berada di lokasi saya mudik. Beza dong dengan penyelewengan oleh PNS tersebut. Hihihi…

Kurang Lebih Jam 10.06-an (28 September 2008)

Ternyata penantian panjang berakhir sudah. Seluruh kendaran mulai berjalan. Lo? penyebab kemacetan mana? Lepas pintu tol gak ada tanda-tanda macet. Bahkan sampai dermaga yang tahun kemaren luar biasa full, sekarang normal sahaja. Weleh-weleh, kenapa dermaga jadi seperti kandang sampah? Plastik bertebaran di mana-mana. Lihat foto-foto di bawah ini.

Gimana sih orang-orang Indonesia. Itu kan sampah mereka. Kok di buang di ‘bukan tempat mereka’. Kenapa gak dibuang di mobil mereka. Kan bikin kotor, bikin penyakit, bikin tidak indah. Bukankah itu tindakan egois. Egois dan merugikan orang lain bukankah tindakan dosa? Logika saya berbicara bahwa itu adalah tindakan dosa. So, please jangan kotori bulan Ramadhan dengan tindakan dosa seperti itu. God, help bangsa Indonesia.

Kurang Lebih Jam 10.35-an (28 September 2008)

Kita disuruh masuk ke area dermaga III. Di area dermaga III hanya terkumpul kendaraan yang akan masuk kapal di dermaga III. Pengaturannya sangat baik menurut saya. Jauh lebih baik dari tahun lalu. Saya baru tahu, ternyata antrian di pintu tol sengaja dilakukan untuk melokalisir antrian supaya tidak semuanya tumplek di dermaga seperti tahun lalu. Ini cara efektif karena menunggu di dermaga penuh ketidakpastian dan saling serobot jadi menu utama. Salut sekali lagi dengan pengaturan ketika masuk kapal. Mobil yang berbaris lebih dari 10 buah, diantri satu-persatu urut tanpa pandang bulu. Good job man. Giliran kami menunggu pun jadi tidak terlalu lama. Pada kapal kedua setelah antrean, kami bisa masuk kapal dengan lega. Poin plus pengaturan arus mudik tahun ini.

Kurang Lebih Jam 13.45-an (28 September 2008)

Kapal kami mendarat. Sampailah kami di bumi rua jurai. Tampak sebuah bangunan menyerupai Siger (topi khas Lampung) yang ukurannya gigantis. Dari jauh memang bangunan ini menonjol karena ukurannya yang monumental di sebuah gunung. Tapi menurut cerita adik saya, bangunan ini menjadi biang korupsi karena harganya yang tidak masuk akal dan fungsinya yang menimbulkan pertanyaa: “Nggo ngopo?” Dari sudut pandang arsitektur sebenarnya menarik sih. Whateverlah… BTW, keluar dari pelabuhan kami langsung disambut tulisan yang sangat ramah, Selamat Datang di Lampung. Cuma ukuran tulisan terlalu kecil, jauh lebih kecil dari gambar sponsornya, yaitu macan egoisme ‘ROKOK MY ASS!!!’. Sudah gitu flexynya sudah kebakar lagi. Wopo to iki. Wueks…

Perjalanan menuju Bandar Lampung adalah perjalanan paling menyenangkan karena pemandangan yang indah selama perjalanan. Melewati gunung dan laut. Suasana juga meriah dari banyak umbul-umbul di jalan. Spanduk juga merajai jalan raya. Beda dengan tahun sebelumnya di mana jalanan dikuasai baliho ILLEGAL para calon gubernur (belum jadi gubernur aja sudah melanggar aturan–yatu pasang baliho tanpa bayar retribusi).

Kondisi jalan pada mudik kali ini ternyata semuanya mulus. Titik-titik yang biasanya bolongbolong ternyata sudah mulus–dan baru lagi. Selamat untuk Pak Yusman Safei Jamal dan Pak Joko Kirmanto yang sudah berusaha mati-matian memperbaiki jalan untuk kelancaran mudik tahun ini. Saya sangat menghargai. Sayangnya–kritik sedikit, gara-gara kejar target mudik, banyak sekali jalan yang marka jalan belum lengkap. Misalnya garis putih pembatas yang untuk malam hari, garis ini sangat bermanfaat untuk pengguna jalan. Seperti gambar di bawah ini (…bonus foto yang CUMI–cukup miris. Tahan hiburan yang musti pasang Pria Punya Selera lebih besar daripada plang nama lokasi. Pria Punya Egois ini memang luwar biyasa.)

Kurang Lebih Jam 16.15-an (28 September 2008)

Overall perjalanan lancar. Jam segini sudah masuk Bandar Lampung. Sebelum memutuskan untuk ke Metro, kita kuliner sebentar di Bandar Lampung. Berhubung belum masuk waktu berbuka (kayak puasa aja), kita jalan-jalan dulu ke berbagai spot di kota Bandar Lampung. Dan terakhir kita mampir ke Baso Sony I (yang asli) pas jam buka puasa. Wedan, ngntrinya panjang amat. Parkir mobil aja sampai gak cukup. Bakso ini laris sekali ya… That’s why kita makan di situ. Mau lanjut kuliner di tempat lain, eh badan sudah pegal-pegal. Kuliner akan dilanjutkan lain hari. That’s all perjalanan kita.

Salam dari The Three Mudikers:

Adi (23 tahun, mahasiswa, Jogja, adik)

Bota (20 tahun, mahasiswa, Jogja, sepupu)

Ants (27 tahun, Jakarta, sopir)

***

From → (1) PENGAMATAN

One Comment
  1. boediman permalink

    wah jadi orang pertama nih yg kasih comment…..

    maaf sebelumnya, kalo boleh tau kerja di bidang apa dan posisi mas sebagai apa nih..

    terima kashi sebelumnya…

    budi, lampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: