Skip to content

PENGAMAT POLITIK KITA SEMAKIN TIDAK INDEPENDENT!

August 15, 2008

Ada apa dengan para pengamat politik kita? Kenapa mereka sarat dengan muatan ideologi yang dipaksakan kepada seluruh rakyat Indonesia, yaitu ideologi universalitas? Kenapa mereka memaksakan suatu sistem politik atas nama demokrasi? Demokrasi kok maksa…

Simak cuplikan berita dari:

http://www.inilah.com/berita/2008/08/15/43961/jadi-caleg-kok-harus-bisa-ngaji/

Tidak baru sekali ini saja. PKS selalu diolok-olok sebagai partai eksklusif. Para pengamat menganggap hal itu tidak demokratis dan memaksa PKS untuk inklusif. Belum lagi ketika PKS secara intern menginginkan capres Balita (bawah lima puluh tahun). Seluruh pengamat menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak demokratis. Sungguh lucu. PKS melakukan itu kan hanya intern partai saja. PKS inklusif juga urusan dalam partai. Kalau berbicara demokratis, justru perbedaan itu kan inti dari demokrasi. Kalau semua harus universal kenapa ada sistem kepartaian…? Demokrasi macam apa ini memaksakan kehendak…

Rasanya kok ada agenda besar dari pengamat-pengamat politik. Mereka sebagian besar lulusan luar negeri, yang kegiatan saat ini juga didonori luar negeri. Biarkan ketika Megawati yang secara internal partai dipilih secara tidak demokratis (dalam skala interna partai), biarlah partai Islam berasas Islam (memang apa yang salah dengan asas Islam?), biarlah calon independen menjadi calon presiden. Toh rakyay yang akan memutuskan, bukan pengamat politik yang picik yang sempit pemikiran ideologisnya. La kalau rakyat memilih presiden di bawah umur lima puluh tahun, lalu apakah itu tidak demokratis? La kalau ternyata rakyat memilih Megawati yang tidak bisa apa-apa lalu menjadi tidak demokratis? La kalau rakyat memilih Wiranto yang berdarah-darah lalu dianggap tidak demokratis? Tidak ada yang baku dalam politik… Pemaksaan sistem politik universalitas itu yang tidak demokratis. Jangan lagi Saiful Munjani menghujat PKS hanya karena mereka berasas Islam. Jangan pula Yudi Latif memaksakan syarat caleg intern partai islam dengan boleh tidak bisa mengaji (itu urusan intern partai…). Biarkanlah politik berjalan sesuai apa adanya, toh rakyat yang akan memilih… Kalau rakyat memilih partai yang mewajibkan calegnya harus bisa mengaji njuk ngopo? Njuk ora demokratis? Opo maksude? Ketakutan kalau ideologi sekulerisme gagal (padahal itu titipan para pendonor?) Hmm… Kalau penuh kekerasan, itu baru tidak demokratis…

Dasar… pengamat politik mbladusan… keminter…

From → Uncategorized

7 Comments
  1. djoerigpersib permalink

    Setuju…
    Mereka cuma jago ngomong, realisasinya nothing….

  2. Politik dekat dengan policik, bertetangga dengan polio, dan karenanya para politisinya kerap masuk poliklinik waktu disangka korupsi…

  3. @Ide Menulis

    Mantep benget quote-nya…šŸ˜†

  4. ha..ha..
    ‘mbladusan’..
    artine opo mas??

  5. Sebagai Caleg DPRD DKI Jakarta dari Partai Demokrasi Pembaruan, saya ingin urun-rembug soal kinerj apara pengamat politik kita.

    Saya tidak peduli bagaimana mereka mendapat donor-dana dari luar.
    Saya tidak peduli dimana mereka belajar politik.
    Saya tidak peduli apa tujuan merek amenjadi pengamat politik.

    Yang saya pedulikan adalah, kenapa mereka memilih hidup menjadi pengamat jika kebeprihakannya pada minoritas (baca: pemerintah, partai atau golongan tertentu), bukan pada mayoritas rakyat Indonesia?

    Dalam konteks politik, tak ada sikap seorang pengamat yang benar-benar independen, namun ada baiknya landasan pikir dan landasan pijak mereka, berakar pada rakyat.

    Karena buat apa ada partai politik , buat apa ada agend apolitik, jika rakyat tidak menjadi subyek dari tujuan politik itu sendiri?

    Pada akhirnya, pengamatan politik yang keliru akan berbuah pada kebijakan politik yang keliru, bahkan menyengsarakan rakyat.

    Salam,

    Silvya Oktarina

  6. Dapadara permalink

    Memang seharusnya pengamat politik harus benar-benar independen dan mampu menyatakan apa adanya yang terjadi maupun yang akan terjadi secara jeli dan objektif. Tapi kenyataannya tidak demikian ,mengamati apa yang terjadi baik didalam maupun Luar Negeri.Seperti halnya dengan Konplik Israel -Palestina dan juga Perang Irak VS Amerika dan Sekutunya disana keberpihakan sangat menonjol
    dan tidak menyatakan secara objektif dan independen sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan pendengar .

  7. Anonymous permalink

    Susah nyari orang jujur di pemerintahan termasuk para pengamat itu sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: