Skip to content

20 ORANG-ORANG YANG HARUS KITA KASIHANI

June 22, 2008

Yes, memang tulisan ini sinis dan menyakitkan. Tapi saya harus melakukannya sebagai bagian dari koreksi diri saya pribadi. Mereka ini yang menjadi pembentuk karakter bangsa saat ini (dan tentu saja saya ada di dalamnya). Apa karakter bangsa Indonesia saat ini yang terbaca dalam fikiran anda? Egoisme, ketidakpedulian, korupsi, dan lain-lain…? Poor us. Kita memang patut dikasihani jika memang itu karakter bangsa kita. Berikut 20 orang-orang yang ada dalam fikiran saya. Ya, tentu saja ini klaim pribadi. Dan, siapa yang peduli bahwa tulisan saya ini benar atau tidak. Hey, society. Hope you’re not angry with this.

  1. Pengamen yang selalu berfikir, “…biar gua ngamen yang penting halal!” Are you sure itu halal? Memang yang berhak menilai sesungguhnya adalah Tuhan apakah itu dosa atau tidak, halal atau haram. Tapi ayo kita bedah bersama-sama. Sebuah keluarga yang sedang asyik makan di kaki lima sebuah mal sambil bercerita-cerita yang menyenangkan karena sangat jarang keluarga ini keluar bersama untuk makan (low budget), tiba-tiba datang pengamen coming out of the blue teriak-teriak diiringi genjrengan gitar dengan skill kurang terasah, menyanyikan lagu Indonesia. Percakapan keluarga terpaksa dihentikan. Ibu mencoel tangan sang bapak. Maksudnya ada recehan nggak? Lebih tepat maksudnya adalah punya recehan untuk ngusir pengamen itu gak? Duar… Artinya apa? Sebenarnya, pengamen itu mengganggu. Dia datang tidak diminta dan tiba-tiba mengganggu orang lain. Mana ada melakukan perbuatan tidak menyenangkan itu halal. Dalam KUHP buatan manusia saja perbuatan tidak menyenangkan dikategorikan tindakan pidana. So, fikirkan lagi kalau mengamen itu adalah melakukan sesuatu yang halal. Baca artikel terkait di http://yulian.firdaus.or.id/2005/02/13/pengamen-jalanan/ .
  2. Sopir angkot, sopir bis, sopir mikrolet, dan sejenisnya. Kalau ini sih semua orang Indonesia sudah tahu. Bengal banget deh para sopir ini. Tapi satu hal mungkin bisa menyadarkan mereka. Pekerjaan sopir ini sudah pasti halal. But, pekerjaan hala bisa menjadi haram kalau cara mendapatkannya dengan cara haram. Tentu saja dengan ngetem sembarangan, berhenti sembarangan, egois, dan lain-lain berarti mengganggu ketertiban umum. Melanggar lalu lintas berarti melanggar keputusan bersama, itu adalah perbuatan dosa. Jadi, pekerjaan halal ini menjadi haram dengan sendirinya. Kasian ya mereka, para sopir. Sudah bersusah payah, keluar keringat, gather dosa dengan berantem dengan penumpang, ternyata hasilnya juga gak halal. Tapi saya tidak mau menjudge lebih jauh, karena ini juga permasalahan besar sosial bangsa. Solusi untuk hal ini memang menjadi domain pemerintah. Kita ikut berdosa karena membiarkan hal ini, kita ikut berdosa karena berpartisipasi naik angkot yang melanggar lalu lintas, kita berdosa karena tidak bisa menekan pemerintah untuk menertibkan hal ini. So, ternyata kita juga harus dikasihani.
  3. Para perokok. Wah, kalau yang ini benar-benar kasihan. Kesehatan semakin melorot digerogoti rokok, duit juga semakin melorot digerogoti perusahaan rokok (atas nama ‘keren’), sudah begitu apa yang mereka lakukan belum tentu tidak berdosa lagi. Parah rah nih para perokok, ‘dikibulin’ abis-abisan. Belum lagi para kyai yang me-makruhkan kegiatan merokok–padahal dari banyak perspektif, merokok bukan makruh, tapi haram. Dikadalin abis, judul buat para perokok. Mari kita simak logika ini: di angkot yang sedang berjubel (angkot=angkutan kota yang mobilnya kecil tanpa AC dan biasanya diisi penumpang sangat berjubel sehingga untuk mendapatkan udara segar harus melalui sela-sela ketek orang lain), ada satu orang (bisa juga beberapa orang) yang merokok. Di tempat yang udaranya pengap, ditambah lagi dengan asap rokok yang keluar dari mulut orang lain yang tidak dikenal, tidak pernah tau riwayat kesehatannya, apa yang dimakan, dan lain-lain. Asap terbang seenaknya ke muka kita yang rajin dirawat. Well, saya menganggapnya sebagai kegiatan haram karena mengganggu orang lain. Herannya ada kyai yang me makruhkan kegiatan ini. Makruh dari mana? Kegiatan ini jelas-jelas haram. Mentang-mentang sang kyai merokok, so kegiatan dia dianggap halal. Kacau dan menyesatkan. Baca juga artikel terkait http://bimosaurus.blogspot.com/2006/04/kyai-merokok-persekot-neraka.html
  4. Tentara dan Polisi Berpangkat Perwira ke atas yang memakai fasilitas negara seolah-olah sebagai aset pribadi. Hahaha… sering saya ketawa sendiri ketika parkir mobil di mal di hari Minggu. Banyak sekali mobil-mobil berplat tentara. Woi, kolonel… mau perang di mal? Are you kidding me. Seingat saya, klausul dalam pajak yang saya bayar tidak menyebutkan untuk membiayai gaya hidup para petinggi TNI. Mobil dinas ya untuk keperluan dinas (dinas ke Mc Donalds? dinas ke Senayan City?). Jadi, kasihan juga para petinggi ini. Mereka fikir mendapatkan fasilitas lebih sampai menjadi fasilitas pribadi, padahal fasilitas itu dibiayai rakyat untuk dinas. Hihhihi… mudah-mudahan mereka tidak pernah tahu ini. Kalau tahu hal ini, tentunya mereka akan malu dan ngambek gak mau dateng lagi ke mal.
  5. Tentara dan polisi berpangkat rendah. Atas nama gagah, mereka mau jadi tameng dengan alih-alih ‘negara’. Padahal, mereka hanya dijadikan kambing perahan para petinggi. Maka jangan heran kalau para tentara dan polisi berpangkat rendah ini jadi pengemis di jalan dengan minta uang ke sopir truk. Atau ada juga yang jadi ajudan penyuap macam Artalyta Suryani. Bagaimana tidak, mereka harus kejar setoran (baik setor muka maupun setor uang) ke atasan. Belum lagi harus melihat gaya hidup para perwira yang main golf, main perempuan, makan di cafe mahal, jalan-jalan ke luar negeri yang mustahil mereka dapat, tapi dipertontonkan setiap hari. Apalagi kalau sudah melihat istri kolonel yang rambutnya disasak tinggi, terus main perintah seenaknya, segalak-galaknya, lebih galak dari anjing herder. Kasian sekali mereka ini.
  6. Pegawai Negeri Sipil yang masuknya harus bayar sejumlah uang (yah… kalau S1 minimal Rp 60 juta deh). Ingat, menyuap aparat itu pelanggaran berat (pelanggaran itu dosa, nanti masuk neraka). Tapi guys, yang bikin kita harus mengasihani mereka adalah, sudah setor sejumlah uang itu, eh, KKN akan segera diberantas. Lah, mau balik modal dari mana? Kalaupun KKN belum menyentuh mereka, terpaksan mereka harus berkubang bagaikan kerbau di lembah nista korupsi. Ibaratnya kiri kena kanan kena. Mau jalan ke arah yang benar, mereka rugi duit yang entah kapan akan terbayar, mau jalan seperti apa adanya sekarang, dosa bertumpuk-tumpuk dan tidak terntas-entaskan. Pura-pura rajin solatpun rasanya tetap tidak bisa mengentaskan mereka… Kasihan sekali mereka ini.
  7. Guru yang terjebak gaya hidup berlebihan sehingga terpaksa cari duit dengan cara ‘rada-rada kasar’. Pahlawan tanpa tanda jasa. Yes itu benar. Tapi jangan salah, ada juga guru yang dengan sengaja membagi-bagikan jawaban soal UAN ke anak didik mereka. Tentu saja dia bukan pahlawan, tapi penggembos masa depan. Siapa tahu anak-anak yang ‘dipaksa’ ikut konspirasi curang itu adalah calon pemimpin dunia. Kacau kan Pak Guru. Ada juga guru yang begitu inginnya memiliki gaya hidup seperti artis sinetron, terpaksa ‘menyekolahkan’ SK pegawai ke bank pemberi kredit. Ada lagi nih yang bikin kasihan. Sekali lagi atas nama membantu ekonomi keluarga, guru membuat les tambahan untuk anak didik mereka. Terus, supaya anak didik les bertambah banyak, soal ujian yang akan diberikan dibahas terlebih dahulu di les. Jadi hanya anak-anak yang ikut les yang bisa jawab soal. “BTW, kalau ada sekolah, ngapain sih ada les tambahan segala… Kenapa materi gak diberikan saja di sekolah siy… Kacau deh guru-guru ini…!”
  8. Kyai-kyai yang secara kontinyu melanggar aturan. Kyai tentu saja sangat kita hormati. Tapi bukan berarti kyai-kyai itu tanpa celah. Namanya juga manusia biasa. Kalau di Jakarta paling mudah menemui orang-orang yang menurut sebagian orang sebagai orang alim (paling tidak menurut dia) mengendarai motor dengan pakaian serba putih dengan sorban berwarna hijau–kadang cuma pakai sarung tapi tidak pakai helm, melenggang di jalanan beraspal di antara mikrolet-mikrolet dan bus kota pelanggar lalu lintas. Lucu ya, berpenampilan alim tapi melanggar lalu lintas. Atau mungkin dalam pandangan mereka, dengan berpenampilan seolah-olah alim, dosa melanggar lalu lintas otomatis luntur. Hmm, I don’t think so, Wak Aji. Melanggar tetap saja melanggar, dan itu dosa. Jadi kalau saya ibaratkan, jalan raya itu bagaikan sungai yang isinya bangkai-bangkai busuk, penuh kegiatan dosa. Yah, anda kan kyai. Pasti tahu mana yang dosa dan mana yang tidak.
  9. A****P dan pendukung kebebasan Beragama yang mendukung kegiatan Ah*****ah. Wadow, kasihan sekali orang-orang ini. Untuk memuaskan nafsu seorang G** **r yang tidak jelas apa maunya, mereka rela menjual jiwa mereka kepada apa yang mereka tidak pernah tahu. Atas nama kebebasan beragama mereka melecehkan agama mereka sendiri. Atas nama ‘ngefans’ sama G** **r, mereka lupa bahwa kebebasan beragama itu berbeda dengan pelecehan agama. Yah, kalau untuk perbandingan kurang lebih begini: Kita mendukung setiap laki-laki menikah dengan seorang perempuan (kebebasan perkawinan), tapi mana mungkin kita mendukung laki-laki yang menikah lalu menganiaya istrinya (pelecehan perkawinan). Yah, whateverlah. Intinya kebebasan ndak sama dengan pelecehan.
  10. Jaksa, Hakim, Polisi dan yang berperilaku sebagai hakim. Dalam sistem hukum kita, seseorang belum ‘dikatai’ salah sebelum ada putusan hakim. Maka berlakulah istilah, tersangka dari kepolisian, dituntut oleh jaksa, didakwa di pengadilan, dan terpidana setelah dinyatakan salah pidana oleh hakim. La banyak kasus yang berakhir di kepolisian. Maling ayam, supaya tidak dipenjara bayar ke polisi (polisi bertindak sebagai hakim). Koruptor harus bayar suap ke Jaksa kalau tidak mau kasusnya lari ke pengadilan (Jaksa bertindak seperti hakim, memutuskan perkara). Hakim salah memutuskan karena disuap. Lebih parah lagi sebenarnya orang sipil, orang biasa yang jelas-jelas bukan berprofesi sebagai hakim, mengadili sendiri temuan kejahatan. Main bogem, kadang dibakar hidup-hidup, dan lain sebagainya. Maka ada istilah main hakim sendiri dan menghakimi penjahat. Parah, parah sekali. Kasihan orang-orang yang bertindak sebagai hakim ini. Setahu saya, hakim jika jujur akan mendapat tempat mulia, sedangkan yang tidak jujur akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat daripada yang bukan hakim. Logikanya, putusan hakim akan sangat menentukan kehidupan sesorang. So, orang sipil bukan hakim yang menghakimi orang-orang yang bukan menjadi haknya, akan sangat nista karena di akhirat dia akan diadili seperti hakim dan sudah pasti dianggap tidak adil, karena meraka tidak sekolah hukum. Kasihan sekali orang-orang ini. Eit, jangan lupa Jaksa dan polisi juga tidak boleh main hakim sendiri. Dipukul, pemerasan, dengan tujuan mempermudah perkara itu juga menghakimi secara sepihak. So, jangan berperilaku hakim kalau kamu bukan hakim.
  11. Para pembayar pajak, termasuk saya juga.

From → KEBUDAYAAN, SOSIAL

7 Comments
  1. asuasuausausausausausausuausausausausausausauasuasuausausausausasuaasuasuausausausausausaus
    sfesgsg
    e
    e
    e
    e
    e
    e
    e

    e
    e

  2. Hehehe, komennya kok negatif semua. Kenapa ya? But it’s ok… Still 9 to go… tunggu 9 kategori lanjutannya ya..

  3. Grace permalink

    Hey your compliment to them sound like you’re too perfectionist and intentional aim,I agree with some of them but not all of them , whatever but in the vice versa JUST LET THE THING ON THE WAY WHERE THEY ARE…..PEACE.

  4. Ati-ati bilang stop beri uang pada pengamen. Ingat, mereka yang menganjurkan untuk tidak memberi makan kepada orang miskin di cap sebagai pendusta agama. Lebih baik kampanye untuk memberi mereka kesempatan usaha yang lebih baik.

  5. “…Tentara dan Polisi Berpangkat Perwira ke atas yang memakai fasilitas negara seolah-olah sebagai aset pribadi….”

    mas buat poin ini, rasanya aneh aja ngeliat mobil ber plat tapi nda bole ke mol. Masalahnya, ayah saya pake mobilnya pribadi, dan bensin BUKAN dari kantor nya. Ayah saya tentara pangkatnya kolonel, dan banyak juga yang tentara pangkat tinggi pada pilih pake mobil pribadi di cet ijo *karena kalo pake plat dinas, catnya harus senada* dan kebanyakan dari mereka nda menerima bensin dari kantor kecuali di supirin sama sopir dari kantornya, soalnya sebulan jatahnya cuman 50 liter, biasanya cuma buat ngantor dan sopir, ketika jalan” pasti bapak” tentara itu mbawa sendiri mobilnya.
    Alasan kenapa banyak tentara pangkat tinggi pake mobil pribadi karena gengsi, soalnya dari kantor pasti di kasi feroza/sedan lama/jeep yang agak jelek, dan sekali mereka pindah tugas, mobilnya di kembalikan ke kantor.
    Jadi saya nda melihat ada yang salah dengan membawa kendaraan sendiri dan bensin dari uang sendiri untuk jalan”, wong cuma nebeng plat.

    NB : saya nda tau kalo dari polisi gimana, tapi saya cuma ngasi tau tentang tentara😉 kita nda sebusuk yang orang lain pikir😉

  6. grany permalink

    iri tanda tak mampu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: