Skip to content

KENYATAAN SHOLAT JUMAT DI INDONESIA BELAKANGAN INI!

May 29, 2008

Wah, sebenarnya sudah lama saya mau tulis tentang hal ini. Entah kenapa, setelah solat Jumat kali ini saya baru sempat. Mungkin ada yang tidak setuju dengan saya. Kalau ada kekeliruan tentang tulisan ini silahkan koreksi, karena saya tidak punya landasan dan dalil yang kuat.

Banyak masjid sudah saya kunjungi untuk solat Jumat. Ada tempat yang jamaahnya membuat solat saya jadi khusuk dan nikmat, sedangkan sebagian besar menimbulkan keresahan saya.

Saya mulai dari yang meresahkan saya saja. Ini ilustrasi saja. Saya sarikan dari banyak kejadian.

1. Well, kotib naik ke mimbar. Waktu saya SMP, saat solat jumat di sekolah ada tulisan di papan yang dikutip dari Hadis Rasulullah “Dilarang bicara, ngobrol, dll saat khotib sudah naik mimbar karena sama saja dengan tidak solat Jumat”. Kurang lebih bahasanya begitu. Saya berasumsi, Sholat Jumat dianggap penting untuk mendengarkan khotbah untuk meng-enhance keIslam-an umat Muslim. Untuk bisa mencapai taraf itu, tentunya jamaah harus konsentrasi mendengarkan kotib. Coba perhatikan di banyak masjid, berapa persen yang memperhatikan isi kotbah? Sebagian besar tidur, sebagian kecil ada yang ngobrol di belakang (ada juga orang-orang dewasa yang melakukan ini–parahnya). Mungkin kebanyakan kotib memberikan materi yang membosankan, tidak siap, tidak mementingkan kepentingan jamaah, hanya baca buku kotbah, atau hanya sekedar menjalankan permintaan takmir masjid. Hmmm, tujuan meng-enhance ke-islaman rasa-rasanya agak ketelikung.

2. Nah, belum lagi ada yang datang terlambat setelah kotib naik mimbar. Menyeberang seenaknya (egois) melewati depan orang yang sedang solat sunah. Ini gimana siy? Logika tata krama saja kalau lewat depan orang harus permisi. Ini yang sedang online menghadap Allah justru tidak dihargai. Hayo, sering melihat hal ini kan? Atau, jangan-jangan kamu sering melakukan hal ini. Mulai dari sekarang, stop, don’t do it. Lebih baik memilih jalan memutar yang tidak melintasi depan orang yang sedang solat.

3. Setelah bosan mendengarkan ceramah kotib yang terlalu datar dan isinya terlalu naratif, awang-awang (ada juga yang baru bangun dari tidurnya), mulailah sang kotib berdoa dan diamin-aminkan oleh jamaah. Ini dia yang dari dulu saya coba cari dalilnya. Bagaimana kita mengaminkan doa bersama? Ada yang amin amin amin apapun yang dikatakan kotib dengan cepat sehingga dia nggak tau kotib berdoa apa (bisa saja kotibnya agen intelijen Amerika terus mendoakan “umat muslim dunia mendukung Israel” dan kita bilang amin amin amin… kacau deh). Ada juga yang kepalanya ngangguk ngangguk. Maksudnya apakah dia paham atau sekedar rutinitas saja? Apakah harus menenuggu 1 kalimat utuh selesai dibaca dan kita baru mengaminkan? Hah, ada yang bisa kasih pencerahan bagaimana seharusnya? Doa itu dalam pengertian saya adalah hipnosis diri. Kita menjadi kuat secara psikologis karena kita yakin dengan apa yang kita mau (ini bagian dari doa). Kalau kita sendiri tidak tahu doa itu apa, la apa yang mau kita hipnosis?

4. Masuklah komat sebagai penanda akan dimulainya solat Jumat. Ini nih yang paling kacau sekaligus menunjukkan jati diri bangsa Indonesia, yaitu egois. Imam bilang, “luruskan dan rapatkan barisan..!” Dalam pengertian saya, yang namanya rapat dan lurus ya secara harfiahnya seperti itu. Kenyataannya, mana ada yang mendengarkan permintaan imam itu (imam=pemimpin). Ada yang dengan cueknya (dia pikir dia alim) berdiri sambil menggoyangkan badan tanpa peduli barisan jadi bengkok gara-gara dia (egois kali kau ini…). Ada juga memakai sajadah yang dibawa dari rumah. Saya pernah berfikir bahwa sajadah itu adalah alat Yahudi memecah belah Islam. Bagaimana tidak? Perintah rapat dan lurus adalah sebuah bentuk konsolidasi umat muslim, bentuk koordinasi luar biasa yang bisa membuat umat Muslim kuat, apalagi ketika bersama-sama berangkat menghadap Tuhannya. Kalau sudah terkonsolidasi, umat Muslim tidak akan takut menghadapi gangguan dunia. Ini kan yang ditakuti orang-orang kafir. Maka dibuatlah cara supaya umat Muslim solatnya tidak khusuk, tidak bisa berkonsolidasi dengan baik. Dibuatlah sajadah dengan gambar macam-macam supaya konsentrasi terpecah. Belum lagi ukuran sajadah yang jauh lebih besar dari kangkangan orang solat sehingga menimbulkan celah antar orang solat (sehingga perintah “rapat” otomatis gugur). Begitulah.. Tapi jangan marah dulu… itu hanya klaim pribadi saya. Tapi intinya, sajadah menjadikan kita solat berjamaah menjadi keluar konteks solat berjamaah. Bahkan, saya pernah mendapat ceramah dari guru ngaji saya saat kecil, celah antara orang solat bisa dimanfaatkan setan untuk mengganggu kita. Lebih dari itu, konsep solat berjamaah itu kan luar biasa. Selain konsolidasi (together we strong), ketaatan akan pemimpin, kepercayaan atar sesama Muslim, kebersamaan, ketidakegoismean, adalah konsep untuk mencapai kemajuan. La, cara solat berjamaah kita saja seperti itu, menunjukkan posisi kita sebagai bangsa belum maju. Ada lagi, sebuah perintah dari pemimpin kita anggap sebagai angin lalu saja karena setiap saat kita diingatkan rapat dan lurus, toh setiap saat juga kita langgar, seperti setiap hari melewati lampu lalu lintas dan setiap hari kita langgar, dan setiap saat kita tahu tidak boleh menilep uang orang lain dan setiap hari kita menilep uang orang lain, dan setiap saat kita tahu tidak boleh memperkosa anak kecil dan setiap kali kita memperkosa anak kecil. Itulah hal-hal kecil yang setiap saat kita langgar.

5. Oke, kita masuk saat solat. Karena barisan tidak rapat dan lurus, wal hasil solat jadi tidak serius (walaupun persaan mereka, sudah solat dengan serius). Pengabaian-demi pengabaian terus kita lakukan. Misalnya, melakukan gerakan setelah imam memerintahkan. Yang terjadi adalah imam baru bilang Allahu… jamaah sudah mendahului gerakan. Atau ada juga yang justru berlama-lama (biar dibilang alim). Logika saya, Imam adalah pemimpin, makmum adalah yang dipimpin. Logikanya, pemimpin memerintah, dipimpin melaksanakan. Ini sebagai bentuk ketaatan dari sebuah komunitas beradab. La, kalau pemimpinnya tidak didengarkan, ngapain solat berjamaah? Solat sendiri saja di rumah… Coba bayangkan jika imam kita ternyata seorang Zionis, terus menelikungkan solat kita. Dia bilang “Ayo kita keneraka”… karena kita tidak memperhatikan Imam, kita kerjakan saja. Please deh… Kerjakan sesuatu dengan difikirkan dan serius.

6. Belum lagi yang melakukan gerakan-gerakan aneh. Saya tidak tahu dalil-dalil tentang ini. Tapi yang namanya solat itu kan harus khusuk. Ada yang memutar-mutar tangan sebelum diletakkan di dada sehingga pandangan saya ikut terarah ke gerakan tangan itu. Ada lagi yang setiap pelafalan ayat tertentu diucapkan keras (mungkin pamer karena dia hapal), sehingga khusuk saya terhenti karena harus mendengar celetuk itu (sama ketika saya tidur lelap karena habis lembur tiba-tiba diguyur air dari ember). Bahkan ada yang pamer isi surat yang dibacakan… wah wah ini benar-benar mengganggu konsentrasi. Sampai-sampai saya tahu surat apa yang sedang dibaca. Bahkan beberapa kali saya mendengar (dari orang-orang sombong, tapi gayanya kurang meyakinkan sebagai orang alim–jangan-jangan dia membuat-buat sendiri aturan solat), setelah Imam selesai baca alfatihah, amin, dan mulai baca surat-surat, yang di lafalkan kok malah al fatihah lagi. Mungkin saya yang belum tahu kalau itu boleh, dan dia pamer kalau dia tahu. But, sekali lagi ini mengganggu konsentrasi. Kalau ada dalilnya, please let me know, supaya saya bisa kaji dengan baik.

7. Well, setelah solat saya kacau balau gara-gara jamaah di samping saya secara signifikan menyita perhatian saya, saatnya selesai solat dan mulai berdoa. Ada berbagai versi dari kejadian setelah solat berjamaah. Tapi yang sering saya rasakan sebagai gangguan adalah, setelah solat saya ingin berdoa bersama imam. Datanglah berbondong-bondong orang mengajak salaman. La, apakah ada dalil yang mewajibkan setelah solat berjamaah langsung salaman? Kok kebanyakan imam, langsung doa tidak salaman dulu. Salamannya setelah berdoa bersama selesai. Saya lebih suka yang seperti itu. Menurut saya, sebaiknya salaman setelah orang-orang selesai berdoa. Jangan diganggu. Kalau mau meninggalkan ‘arena’ ya tinggalkan duluan. Kasian kan yang sedang khusuk. Sama saja ketika kita sedang berasyik masuk berhubungan intim dengan istri kita, tiba-tiba ada ada polisi masuk dan menodongkan senjata ke muka kita. Please deh…

Tapi di banyak tempat/masjid, sholat Jumat begitu menyenangkan seperti keinginan saya (ini sudat pandang pribadi lo). Jumatan di masjid Kampus UGM, masjid Kampus ITB, masjid Kampus UI, masjid di sekitar Kampung Melayu Singapura, dan beberapa tempat lain begitu khusuk, barisan rapat dan lurus (tidak peduli dengan lebar sajadah), setelah solat langsung berdoa bersama-sama dan baru meninggalkan barisan setelah berdoa selesai. Wow, begitu khusuknya. Pertanyaannya, apakah kenikmatan sholat hanya bisa saya rasakan ketika berada di sekitar orang-orang dengan kemampuan otak yang baik? Jujur saja, kebanyakan solat Jumat saya dihabiskan di lokasi proyek yang sebagian jamaahnya kebanyakan tukang. Wow, saya perlu pencerahan di sini.

Bapak saya pernah bilang, “bangsa Muslim itu akan maju ketika menjalankan agama dengan benar, sedangkan bangsa non Muslim akan maju jika meninggalkan agamanya, begitu pula sebaliknya”. Rasanya ini begitu benar. Saya sempat punya optimisme ketika berkunjung ke banyak masjid kampus. Mereka orang-orang pintar (terutama UGM, UI, ITB) dan menjalankan kegiatan keagamaan dengan baik sekali (kebanyakan aktivis KAMMI dan kader PKS–jujur saja). Mudah-mudahan mereka inilah yang bisa membalikkan kondisi bangsa kita yang sedang diisi dengan hal-hal ajaib seperti saat ini. Optimisme itu sempat goyah karena kesempatan mereka menjadi pemimpin seringkali dicurigai dan dijegal (bahkan oleh orang-orang muda juga). Hmm, saya masih menginginkan perubahan rasanya.

Simak juga pembahasan bagus di: http://tuansufi.wordpress.com/2007/09/28/aduh-gimana-ya-sholat-berjamaah-kita/

Cibubur, 30 Mei 2008

***

From → KEBUDAYAAN, SOSIAL

10 Comments
  1. bayu.an permalink

    tulisan, dan kajian yang menarik…
    keep spirit bro..

    dari sebelah,
    salam kenal

  2. itu dia yang sering kita sebut sebagai menggugurkan kewajiban aja kali ya. ngga ngerti sebenarnya shalat itu apa.kenapa kita mesti shalat. kenapa mesti berjamaah. kenapa kita mesti ndengerin khotbah.

  3. salam kenal

  4. boy susanto permalink

    mungkin tidak hanya mas saja yg mengeluhkan hal ini, namun saya juga.
    Sesungguhnya saudara2 kita yg berbuat seperti itu (yg meresahkan kita) saat sholat jama’ah adalah tidak adanya pemahaman ilmu agama yg benar diantara mereka.

    Mereka tidak tahu bahwa, sholat berjama’ah itu wajib dilakukan dimasjid pada awal waktu bagi setiap laki-laki muslim (karena selama ini dicecoki bahwa sholat berjama’ah itu sunnah hukumnya)

    Mereka tidak tahu bahwa salam2an pas setelah sholat selesai adalah tidak pernah dicontohkan ole Rasululloh (yg beliau sunnahkan selepas sholat adalah berdzikir memuji Alloh, bersholawat kepada Rasululloh dan kemudian berdoa kepada Alloh atas hajat2nya)

    Dan masih banyak lagi ketidaktahu2an akan Agama Islam ini pada mayoritas kaum muslim di Indonesia…para kyai, ustadz, juga sama minimnya Ilmu Agamanya, maka tak lain kewajiban kita adalah senantiasa belajar akan agama ini, insyaAlloh, Alloh akan memberi petunjuk kepada kita kepada jalan Agama Islam yg benar sesuai tuntunan Rasululloh.

    Lantas mengapa pemandangan lain (yg begitu khusuk, rapi, tertib) rata2 didapati di daerah kampus atau daerah yg tingkat intelektualnya baik, karena memang di sinilah berkumpul orang2 yg sama2 belajar, belajar akan agama Islam yg benar melalui kajian2, apalagi mereka masih relatif muda dan haus akan ilmu…maka suatu nikmat tersendiri yg luar biasa jika kita berkumpul dengan orang2 yg benar ilmu agamanya.

    Saya sendiri prihatin dengan mayoritas umat muslim di Indonesia, yg sangat menyepelekan urusan agama mereka, dien ini, lebih sibuk oleh urusan2 yg tak ada esensinya. contohnya dalam hal sholat,sangat terlihat sekali kesan menyepelekannya, adzan berkumandang sedikit sekali yg bergegas melangkah ke masjid, malah sebaliknya memandang aneh mereka yg bergegas ke masjid untuk menunaikan sholat. Semoga Alloh senantiasa menjaga kita dalam agama yg shahih ini.

  5. Terima kasih atas tanggapannya. Nah, concern saya selanjutnya adalah, bagaimana kita bisa memberi masukan positif untuk memperbaiki hal-hal yang sewajibnya dikerjakan saat sholat. Dalam pandangan saya, jika sholat berjamaah kita baik, secara sosio kultural kehidupan kita juga akan lebih baik. Sifat egoisme yang menjadi bagian terbesar bangsa ini seharusnya luntur jika sholat berjamaah kita juga baik. Rasanya sosialisasi tentang hal-hal teknis dalam solat berjamaah harus dilakukan kembali. Ini demi masa depan kita semua, ya masa depan agama kita, dan tentu saja masa depan bangsa Indonesia.

  6. minta tips nya supaya pas solat jumat gak ngantuk dong mas🙂, coba kalo semua penceramah nya kaya AA Gym or ustad terkenal lainnya, pasti dijamin mendengarkan dengan jeli, hehe

  7. Emang susah seh kalo udah bercampur dengan budaya. Kadang susah membedakan aturan yang benar dengan yang biasa dilakukan, yang telah terlanjur menjadi budaya. Buat banyak orang, yang biasa dikerjakan, apalagi kalo dicontohkan oleh orang-orang tua di kampungnya, praktis benar dan harus selalu dilakukan sedemikian adanya. Semoga Allah menunjukkan kepada kita mana yang sungguh benar dan memberi kita kekuatan untuk dapat melakukannya. Amiiin

  8. Assalamualaikum ya Akhi jujur saya mencintai anda karena Alloh Swt. Saya berharap banyak pemuda Indonesia (terutama muslim)yang berpikiran sepert anda.Insya Aloh nggak sampai satu dasawarsa kita menjadi bangsa yang kuat.
    Semoga Alloh Swt selalu menjaga anda dan selalu diberi yang terbaik

  9. Setuju dengan sikap kritis mas Eftianto, memang sikap concern masyarakat kita terhadap ibadah yang satu ini masih kurang, mungkin sosialisasi dan pendidikan yang konsisten bisa mengatasinya perlahan-lahan ya,
    tapi untuk masalah perbedaan sebenarnya yang diperlukan orang Islam dalam menghadapi keberagaman adalah rasa toleransi kepada keberagaman, jangan jadikan perbedaan hanya karena hal-hal kecil menjadi jurang pemisah kita dalam menggalang persatuan umat. Masih banyak permasalahan umat kita yang harus diselesaikan, kalau masih hanya terpaku pada masalah qunut tidak qunut atau cara shalat lainnya maka energi kita hanya akan habis sebelum bisa memperbaiki umat ini

    CMIIW

  10. ardi permalink

    Ass Wr Wb

    Utk Mas Anto keren postingannya,, karena emang realita bgt..
    Adapun utk perkara fiqih atau yg terkait tata cara solat nya,,,
    sangat baik bila dirujuk di tempat yang tepat,, agar kita semua
    mendapat jawaban yang memuaskan.
    bisa di rubrik tanya jawab warnaislam.com, eramuslim.com, dan
    myquran.com,, ,mohon maaf hanya saran,,
    bukan bermaksud menggurui,,

    Wass Wr Wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: