Skip to content

RASA MEMILIKI YANG TERTINGGI!

March 27, 2008

logo-anti-copy-cilik.pngSedikit sinis dan sombong, terpaksa saya katakan. Begini, saya mulai saja dari cerita singkat kehidupan sehari-hari di komplek perumahan saya. Saat ini saya tinggal di salah satu perumahan BTN di Bekasi. Mayoritas penduduknya bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Nah, yang menarik adalah beberapa kavling yang belum dibangun (masih areal kosong) pasti diisi oleh para pedagang. Entah warung, entah pedagang makanan gerobak. Pernah saya tanya mereka, apakah itu kavling mereka? Bukan.

Herannya, mereka secara hukum tidak berhak atas lahan yang mereka pakai. Tapi… seolah-olah merekalah penguasa atas lahan mereka… dan sekitarnya. Misalnya pedagang nasi goreng. Dengan begitu mudahnya mengambil air dari rumah-rumah orang. Mencuci piring limbahnya dibuang seenak udel. Entah ke jalan, ke comberan, ke mana saja seenak udel mereka. Hmmm, mereka bagaikan pemilik kawasan, bisa melakukan hal seenaknya.

warung-tenda-ibu-salbiah.jpgBelum lagi warung di sebelah rumah. Jelas-jelas pakai kavling punya orang tapi seenaknya melakukan kegiatan. Sebagian besar penghuni “sah” perumahan adalah pekerja yang pada tengah malam istirahat. Nah, si penguasa tidak sah ini justru merusak kehidupan dengan menyetel radio keras-keras sepanjang malam. Tebak lagu-lagu yang dimainkan, tentu saja Dangdut. Mereka paksa kita mendengarkan yang tidak ingin kita dengarkan. Sekali lagi, kita dipaksa. Setiap hari, maksud saya setiap malam, karena pagi hari mereka tidur (khas pemalas). Benar-benar menyebalkan. Apa yang mereka lakukan di tengah malam coba? Sambil gitar-gitaran, suara sekencang-kencangnya, mereka pikir mereka jago main gitar. Sungguh menyebalkan.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa mereka seperti itu? They don’t belong there. Seharusnya mereka diusir. Tapi atas nama kemanusiaan, mereka dengan tertawa bisa melakukan hal seenaknya. Mereka pasti tertawa tidak perlu beli kavling, tidak perlu bayar listrik, tidak perlu urus ijin, bisa kerja bermalas-malasan, dan lain-lain jelek. Saya sih berharap ada orang yang sedikit kejam menggusur mereka, dan akan saya dukung… (agak jahat sih). Tapi kalau tidak dilakukan penggusuran, terjadilah ketidakadilan. Dan melihat ketidakadilan jika dibiarkan saja, sama saja kita berbuat tidak adil. Damn kemanusiaan. Mereka tidak berhak atas hak orang lain, apalagi terjadi penggangguan secara paksa atas kenyamanan orang lain. Gusur, gusur, gusur!

gusur.jpg

Saya jadi ikut berfikir, kadang penggusuran itu justru manusiawi. Yang sering kita saksikan setiap ada penggusuran adalah bentrokan warga yang digusur dengan pemerintah. Sepintas kita akan membela yang digusur. Tetapi dengan apa yang saya alami setiap hari, rasanya pemerintah memang harus tegas menggusur. Bayangkan kemacetan setiap hari yang disebabkan pedagang kaki lima. Apakah mereka berhak memakai badan jalan? Kalau saya akan bilang tidak berhak. Saya bayar pajak untuk bisa memakai fasilitas umum (jalan) dengan nyaman. Yang terjadi adalah pemaksaan kehendak mereka dengan memakai badan jalan, dan terjadilah kemacetan (selain juga kekumuhan). Kalau terjadi penggusuran, saya pasti akan gusur. Saya tidak peduli mereka orang miskin atau orang kaya. Saya sendiri orang miskin, tapi saya tidak boleh memakan hak mereka. Saya analogikan pendapatan mereka adalah pendapatan haram. Haram bukan karena profesinya, tetapi karena cara mendapatkannya. Pedagang itu profesi halal, tapi karena cara mendapatkannya dengan mengganggu orang lain, maka uang yang didapat dari berdagang adalah haram. Ayolah, kapan kita bisa tertib kalau kita tidak tegas.

Memang secara makro ekonomi, banyaknya kaum marginal adalah karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang memadai. Tapi buat saya, itu bukan legalisasi untuk mengganggu orang lain, memakai hak bukan haknya. Bukankah kita harus berfikir global dan bertindak lokal? Urusan bangsa adalah domain pemikiran global, dan tindakan sehari-hari adalah domain lokal. Pemaksaan terhadap orang lain adalah tindakan salah. Gusur, gusur, gusur.

Cibubur, 27 Maret 2008

(foto-foto diambil dari berbagai sumber)

From → SOSIAL

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: