Skip to content

Komen: Literatur Arsitektur Indonesia

November 13, 2007

Disadur dari komen Eftianto terhadap ulasan buku Literatur Arsitektur Indonesia di http://readjournals.blogspot.com oleh Helman Taofani

Prolog…
Kajian tentang arsitektur pada dasarnya tidak boleh lepas dari kajian-kajian seni dan sosial. Sewaktu saya kuliah, mahasiswa-mahasiswa ‘frustasi’ yang dengan sengaja atau tidak sengaja menghujat arsitektur dari hati yang paling dalam dengan sebutan “art shit texture” bahkan lebih manusiawi lagi “asu tektur”, yang pada dasarnya menunjukkan identitas diri arsitektur yang tidak berbentuk dan hina. Arsitektur sebagai seni paling rendah dari semua cabang seni. Sedangkan mahasiswa lain yang lebih mapan dan menikmati ‘kemewahan’ arsitektur dengan bangga menunjukkan dadanya: wis arsitek tur ugm, sudah arsitek, ugm lagi.

Buku untuk Tidak Dibaca…
Ada beberapa ujaran menyindir tentang mahasiswa arsitektur: “…kalian ini jauh-jauh disekolahkan di Jogja seharusnya buat belajar, malah nggambar…”. Arsitek itu pemikir atau tukang gambar? Ada lagi dosen saya, Adi Utomo Hatmoko yang pernah berujar: “…nek nggambar ra mikir, nek mikir ra nggambar…” Arsitek itu bukan seniman lukis, jadi harus berfikir. Tapi arsitek itu bukan filsuf, jadi harus ada karya nyatanya. Begitulah kira-kira…

Berawal dari kenyataan semasa kuliah, buku-buku arsitektur itu se’eksklusif’ artis ibukota. Mahal dan tak terjangkau. Kalaupun terjangkau, itu pastilah artis dangdut–tahulah artis dangdut! Pun, semua buku itu impor dengan kertas yang bagus-bagus dan gambar yang menawan. Jadilah buku-buku arsitektur sebagai bukan buku pelajaran, tapi komik untuk dilihat gambarnya. Berbicara kedalaman isi, tidak penting rasanya. Saya dan kawan-kawan kenal Tadao Ando, Richard Meir, Aldo Rosi, FLW, dll ya dari melihat gambar. Dengan melihat gambar dan sedikit narasi saja kita tahu style dan keinginan mereka seperti apa. Coba bandingkan dengan buku-buku arsitektur terbitan lokal, Karya Arsitek Indonesia, atau karya-karya arsitek AMI. Gaya penuturannya yang lebih men’dokter’kan arsiteknya membuat saya muak. Belum lagi buku Imelda Akmal ‘Indonesia Architecture Now’, bullshit! Kenapa sudut pandang arsitektur menjadi semakin sempit ketika dijadikan buku. Sudah gitu diembel-embeli Indonesian Architecture…now! Apakah arsitektur Indonesia kini itu yang stylenya keunpar-unparan, atau yang keami-amian. Saya tidak melihat sinergi karya arsitektur Indonesia yang sesungguhnya. Sudahlah, kita memang tidak bisa terus-menerus mengatakan arsitektur vernakular yang ber-genius loci adalah karya arsitektur Indonesia, Indonesia banget. Tapi juga karya arsitektur Indonesia tidak sesempit itu. Lalu apa bedanya buku itu dengan majalah Asri, Indonesia Design, dan tabloid-tabloid pinggir jalan. Jangan-jangan buku itu kliping dari majalah dan tabloid. Uhh, buku itu harus penting dan bermakna baik.

End of story…
Sejujurnya saya takut membeli buku-buku arsitektur keluaran lokal. Takut kecewa… Harganya memang tidak semahal buku impor, tapi sekali lagi saya takut kecewa. Sama seperti saya takut nonton di bioskop dengan film Indonesia yang diputar. Ceritanya mungkin bagus, tapi gara-gara artisnya yang tidak berbakat jadi pemain film, jadilah kecewa datang. Sama juga ketika terpaksa nonton sinetron, kalau tidak kecewa, ya jadi gila…masak kerjaan artis-artis sinetron itu ngomong sendiri–atau mereka memang gila.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: