Skip to content

Hermawan Kertajaya VS Soeharto! (Babak Baru Korupsi di Indonesia (Bagian 2))

November 13, 2007

Beberapa hari yang lalu teman saya yang berasal dari Amerika Serikat datang ke Indonesia. Dia seorang perempuan keturunan Jawa, tapi sejak umur 3 tahun pindah dan menetap di Boston. Kebetulan saya diundang ke hotel tempat dia menginap. Senang rasanya bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini menjadi teman debat tentang masalah agama dan kebangsaan. Sebagai seorang perempuan, tentu saja dia cerewet. Tapi jujur saja, pengetahuannya agak terbatas. Sudut pandang politiknya hanya sebatas yang diketahui kebanyakan orang Amerika. Yang dia tahu Israel dan Palestina harus berdamai, tanpa pernah ingin tahu bagaimana bangsa Israel ada di tanah Palestina—seperti kebanyakan orang Amerika pahami. Dia juga hanya tahu bahwa tentara Amerika sangat berjaya, tanpa ingin tahu bagaimana tentara mereka terusir dengan memalukan di Vietnam. Membosankan memang kalau harus berdebat dengann orang-orang yang memiliki sudut pandang yang sudah dibatasi oleh manipulasi dan propaganda yang bersifat organisatoris.

Well, yang menarik dari teman saya ini, namanya Lina, adalah bagaimana dia menjastifikasi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bobrok, penuh dengan korupsi, premanisme di semua lini, ketidakpedulian, kebodohan, kriminalisme, dan segalanya yang buruk-buruk—seakan-akan dia lupa dia juga berdarah Indonesia. Saya yang masih asli orang Indonesia jadi panas mendengarkan. Tapi, setelah saya pikir-pikir, benar juga kok yang disampaikan Lina. Korupsi, tentu saja. Siapa yang tidak korupsi? Kamu? Oh, c’mon. Gimme a break… Premanisme, iya sekali. Lembaga kepolisian berjiwa preman, pemerintah juga berjiwa preman. Sampa-sampai saya bilang ke Lina begini:

“Kadang, alasan penjahat merampok orang, sejahat-jahatnya kadang saya masih bisa mengerti, karena kebutuhan ekonomi. Tapi yang paling saya tidak bisa mengerti, kenapa para pejabat merampok uang semua penduduk yang membayar pajak, malah disebut dermawan dan orang baik. Bahkan kita harus memberi salam dan senyum kepadanya. Pernah juga saya mengurus Surat Kelakuan Baik di Polresta Jakarta Selatan diminta untuk memberikan uang seikhlasnya oleh “oknum—semua orang adalah oknum di kepolisian” sambil menahan surat tersebut. Maksudnya, kalau saya tidak memberikan segepok uang, surat itu tidak akan dikasih ke saya. Dengan terpaksa saya kasih uang 20 ribu di tangan kanan, dan tangan kiri saya memegang surat itu. Sementara uang saya serahkan ke tangan dia, saya berkata bahwa saya tidak ikhlas (surat sudah saya pegang) sama sekali. Mudah-mudahan uang yang hanya 20 ribu ini tidak membawa berkah untuk Ibu, kalaupun uang ini untuk membeli makanan untuk anak Ibu, mudah-mudahan makanan itu tidak membawa berkah dan akan menimbulkan penyakit untuk anak Ibu di kemudian hari, bisa saja anak Ibu menjadi pecandu narkotika akibat makanan dari uang yang tidak halal. Begitula saya berkata kepada Ibu itu. Setelah selesai, saya berlari sekencang-kencangnya ke luar kantor polisi tanpa ingin tahu apa yang akan dilakukan Ibu itu selanjutnya. Sebegitu tidak ikhlasnya saya terhadap suap dan pungutan tidak halal, seberapa kecilnya pungutan itu.”

Teman saya tertawa terbahak-bahak. Tentu saja cerita saya menjadi hiburan, sangat entertain. Keadaan bodoh bangsa yang sangat menghibur. Hal ini seakan-akan semakin menguatkan sinyalemen Lina bahwa mentalitas bangsa Indonesia sudah hancur lebur. Dia bertanya pada saya, anak-anak SD sampai SMU saat ujian, berapa persen yang tidak mencontek atau tidak curang? Saya jawab degan jujur: 1 dari 40 siswa. Dia tambah tertawa. Itulah—kata dia, berbuat curang saja sudah biasa dilakukan sejak kecil. Dimana nilai atau value kebaikan. Terlalu dominannya value kejahatan sehingga kejahatan menghapus nilai-nilai kebenaran dari agama.

Sebegitu yakinnya Lina dengan stereotipe bangsa Indonesia yang begitu bobroknya. Rasanya saya sudah tidak bisa marah karena begitu kuatnya image ini. Saya seharusnya berterima kasih kepada rezim Orde Baru atau rezim Soeharto. Atas jasa beliaulah Indonesia memiliki brand image yang begitu kuat sebagai banga yang korup, bobrok, preman, tidak peduli, dll. Coba bayangkan perusahaan-perusahaan multinasional dalam membangun brand image. Bagaimana Unilever berjuang menegakkan brand image Pepsodent dan Lifebuoy sebagai merek yang terkemuka. Berapa biaya yang sudah dikeluarkan, berapa banyak konsultan yang dihire untuk menegakkan merek ini. Atau bagaimana Coca Cola bisa merajai pasar minuman di seluruh dunia. Saya seharusnya mulai berfikir untuk berpindah mengidolakan Hermawan Kertajaya sebagai ahli marketing, menjadi mengidolakan Soeharto sebagai ahli marketing karena prestasi Soeharto menegakkan merek Indonesia sebagai merek korupsi, kolusi, pungutan, premanisme, ketidakpedulian, pembohong, dan kebodohan di tengah dunia yang sudah maju pesat ini. Bayangkan berapa banyak uang sudah dikeluarkan rakyat Indonesia untuk membiayai Pemerintahan Soeharto lewat yayasan, kroni, pemerintahan daerah, perusahaan abal-abal, dan anak-anaknya, hanya untuk membangun sebuah brand image Indonesia itu. Belum lagi waktu yang telah dihabiskan Soeharto untuk brand image ini, 32 tahun. Bayangkan, waktu yang benar-benar lama. Dan kini, lebih dari 200 juta orang Indonesia yang sudah berpartisipasi menyogok, menyuap, mengkorupsi uang-uang untuk keperluan promosi itu, bisa menikmati image yang sudah terbangun. Kemanapun kita berjalan di seluruh dunia, orang akan mengenali merek kita. Thanks to Mr. Soeharto. Maaf Pak Hermawan, tokoh marketing abad ini bukan anda, tetapi Soeharto.

…to be continued…

Ants, Cibubur, 23 Oktober 2007

One Comment
  1. luar biasa ulasannya…..
    Di desa kemamang beda mas….
    desa kemamang telah meletakkan pondasi untuk menjadi desa mandiri yang tidak akan terpaku pada bantuan saja.semoga 5 tahun lagi sudah bisa berjalan.
    kalau bisa temannya amerika diajak kunjungan ke desa kami mas….
    biar bisa membawa iklim yang sehat dan desa kami punya branding sebagai desa mandiri dan punya image welcome terhadap perubahan yang lebih baik.
    thx’s telah menularkan aura positif ke desa kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: