Skip to content

Cerpen: Wanita Koridor (Biarkan Tanganku Terikat…!)

November 13, 2007

Pintu besi itu terbuka lebar. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan wajah tertutup topeng masuk ke ruang kami, dan dia berseru pada pacarku…”hey laki-laki lemah layaknya bencong, tinggalkan gadismu di lantai semen yang dingin itu…!” Laki-laki itu mulai melangkahkan kakinya satu persatu. Pacarku yang menurut laki-laki itu lemah layaknya bencong makin ketakutan. Laki-laki besar itu tidak tertawa layaknya penjahat yang sering kita lihat di sinetron-sinetron tidak bermutu di layer teve. Dia tetap santai mendekati kami berdua. Aku masih menutupi tubuh telanjangku dengan sprei kasur yang rencananya akan kami gunakan untuk ‘ngefak’. Tak sampai 2 langkah lagi laki-laki besar itu akan menginjak tubuh pacar lemahku, dia sudah lari terbirit-birit.

Aku seharusnya takut, tapi aku justru menikmati suasana kelaki-lakian ini. Tinggal 4 langkah lagi sang tubuh besar itu ada di hadapanku. Dia membuka topengnya, dan kutatap wajahnya yang hitam dan kotor. Sprei aku lepaskan dan kupertontonkan tubuhku yang haus sentuhan. Aku serahkan sepenuhnya tubuh ini kepadanya.

Dan malam itupun berlalu dengan penuh fantasi dan petualangan. Tuan P yang gagah itu telah pergi, tapi aku masih bisa merasakan keperkasaan itu. Kuberjalan sepanjang koridor bangunan bekas penjara zaman Belanda ini. Sambil tersenyum sepanjang jalan, aku memaki para wanita di sepanjang jalan yang kutemui…”kalian wanita bodoh, kenapa tidak menikmati hari-hari hijau ini layaknya aku! Aku sudah tidak perawan lagi… Aku yang 18 tahun sudah menikmati hidup… Sedangkan kalian… wanita endonesa yang bodoh…!” Tentu saja aku memaki dalam hati, mana berani aku memaki dengan mulutku yang bau sperma ini.

Kupandangi juga semua laki-laki di jalan. Ada yang tua, ada yang muda, dan ada yang anak-anak. Mereka semua cukup seksi. Bahkan anak kecil yang menangis itupun cukup seksi. Andaikan aku bisa tidur dengannya… Sebenarnya aku hanya tinggal menunjuk laki-laki yang ada di jalanan ini untuk ‘ngefak’ dengan aku. Aku berani jamin mereka pasti mau, mereka kan hanya laki-laki. Oh, ya… sekali lagi mereka kan hanya laki-laki.

Dalam fikiranku, bagaimana jika aku membuka sedikit bajuku dan menonjolkan dadaku sedikit saja. Dadaku memang tidak besar, tapi aku yakin semua mata akan melihat dadaku, anak-anak sekalipun. Alangkah menyenangkannya jadi perempuan. Atau lebih ekstrim lagi kusobek sedikit saja celana jins ini dan sedikit memperlihatkan pantatku… Pura-pura saja aku tak tahu kalau celanaku sobek. Haha… Wanita menguasai dunia.

Aku bahkan tidak perlu berkata-kata untuk bisa mengajak ABG itu mengeluarkan alat kelaminnya dan memasukkan ke alat kelaminku. Mungkin dia belum pernah melakukannya, tapi dengan sedikit pengalamannku, dia akan mengingat pengalaman pertamanya denganku. Atau laki-laki tua itu. Uh, aku bayangkan alat kelaminnya yang sudah mulai loyo berada di mulutku. Tak berasa terlalu nikmat tapi pasti penuh sensasi. Aku akan lihat bagaimana aku yang seorang wanita bisa membuatnya melakukan tindakan bodoh. Hah, once again, woman rule!

Sialan, hak sepatuku patah. Tolah-toleh kulihat tak ada orang yang memperhatikan aku. Seperti iklan di teve, kupatahkan hak sepatuku yang satu lagi supaya seimbang. Huh, hampir saja membuat aku malu. Koridor ini terasa panjang sekali. Orang-orang bodoh di sekelilingku masih saja melakukan aktivitas bodoh mereka. Namanya juga orang-orang bodoh, pasti melakukan hal-hal bodoh.

Rasanya koridor ini semakin panjang dan semakin jauh. Aku lelah sekali, dan rasanya kaki ini sudah tidak mampu menjejakkan langkah lagi. Aku berhenti sejenak. Aku tersenyum pada seorang laki-laki bertubuh atletis dan ganteng. Dia melihatku dengan tersenyum pula. Aku memberi signal padanya untuk pergi denganku. Tentu saja dia harus membopong aku ke tempat yang nyaman untuk ‘ngefak’. Aha, dia menerima sinyalku.
“Hai, apa yang bisa aku bantu…?” tanya sang lelaki ganteng itu.
“Hem, aku capek dan maukah kamu membawaku ke tempat yang nyaman?”
“Oh, tentu saja, kemanapun kamu mau…!” Lelaki itu memang ramah dan menyenangkan.

Tak sampai 10 menit kami sudah sampai di sebuah penginapan yang tidak terlalu bersih. Tapi lumayanlah kalau hanya untuk sekedar ‘ngefak’.
“Hei, wanita. Aku tinggalkan kau di sini supaya kau bisa istirahat!” kata lelaki ganteng itu.
“Tentu saja sayang, aku tetap tunggu kamu di sini…!”
“O o, tidak perlu menungguku, aku dan pacarku akan pergi dari sini sekarang…!”

“Hai sayang, kamu sudah siap?” Seorang laki-laki lagi, yang juga ganteng menyambangi pacarnya, cowok ganteng yang menolongku tadi.

“Hei, kalian mau kemana?” teriakku. Kubuka semua pakaianku sehingga tidak satupun kain yang menutupi badanku. “Tidakkah kalian ingin ‘ngefak’ denganku. Lihatlah tubuhku, lihatlah gairahku…!”

Tak terjadi apapun dengan kedua homo tersebut. Aku keluar dari hotel lusuh ini dengan kesal. Kembali kususuri koridor panjang ini, lagi. Dan koridor ini terasa semakin panjang dari semula. Kuberhenti sejenak. Kulihat seorang laki-laki esempe di depanku. Aku beri dia sinyal penuh sensasi, jari tengah. Dia lari terbirit-birit. Ah, dasar yunior. Kembali aku mencoba melangkahi koridor ini. Di seberang kulihat ada sepasang laki-laki tua dan wanita tua sedang bertengkar. Kulihat slow motion pertengkaran mereka. Mulut sang laki-laki memaki sembari tangannya terangkat-angkat di atas seolah-olah akan menampar si perempuan. Mungkin mereka suami istri, sebuah konsep bodoh yang dianut sebagian besar manusia di bumi. Tanpa takut, sang istri memaki sang laki-laki. Dalam gerakan lambat yang kulihat keluar kata-kata kotor dari sang perempuan yang bisa kutangkap secata visual. Kurang lebih begini, “…dasar laki-laki, tak kurang berapa perempuan yang kau tiduri…!”. Tiba-tiba tangan sang lelaki sudah ada di pipi sang perempuan. Larilah sang perempuan sambil menangis. Sangat klasik. Alangkah bodohnya sang perempuan. Dengan sikap seperti itu bagaimana dia bisa menguasai dunia.

Sang laki-laki itu menyeberangi jalan menuju ke koridor yang sedang aku tapaki. Dengan berjalan cepat sekali, dia tiba-tiba sudah ada di depanku. Gerakan slow motion itu sudah berakhir. Kupanggil laki-laki itu.
“…Hei, lupakan saja dia. Kau mau ngefak denganku…?” kuucapkan kata-kata indah itu tanpa basa-basi.
…Telepak…! Tangannya yang besar khas laki-laki pekerja kasar mendarat di pipiku.

“…dasar wanita koridor, kamu pikir aku laki-laki macam apa…?” teriaknya dengan kasar.
“…laki-laki seperti dalam bayanganku…!” jawabku seadanya.
“…pergi kau, kau tidak ada bedanya dengan wanita koridor lain yang mengganggu rumah tangga orang lain. Lihat aku telah melukai istriku, yang sangat aku cintai hanya karena aku tergoda oleh kalian, di koridor ini. Pergi dari hadapanku, sekarang juga…!” laki-laki itu berteriak ke arahku sambil menangis. Wow, laki-laki besar menangis sungguh menyebalkan untuk dilihat.
“…kau yang datang ke koridor ini dan seharusnya kau yang pergi dari hadapanku… dasar laki-laki lemah, pemberi kotor pada warna dunia…,” sebagai wanita koridor aku merasa memiliki koridor ini, walaupun aku tak menginginkan koridor ini sejatinya.
“ah… iya… mohon maaf. Maafkan aku sebagai laki-laki yang tidak punya jiwa. Aku akan menyingkir dari koridor perak ini dan akan kulangkahi jalanan debu yang emas itu, walaupun dengan susah payah. Sekali lagi maafkan aku…!”
“Tentu saja…!” kumaafkan dia, tanpa lupa kutampar pipinya dengan sangat keras supaya menjadi pelajaran buat dia.

…unfinished… I couldn’t find any word anymore… help me…
Cibubur, last July 2006
Eftianso

From → (4) KARYA CERPEN

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: