Skip to content

Cerpen: Asking for Some Clue: Tanya Rumput yang Bergoyang

November 13, 2007

Diki memang memakai kalung besar bertuliskan “Allah Save Me”. Tapi tak semua orang tahu bahwa Diki sedang bingung galau. Lihatlah cara berjalannya yang gontai, tangan terkulai lemah. Kalau saja semua orang berani menatap matanya, maka orang-orang akan tahu bahwa dia sudah tidak tahu akan kemana lagi hidup akan dibawanya. Diki memang berjalan, tapi apakah dia tahu bahwa dia sedang berjalan ke mana. Dia berbicara, tapi sebenarnya dia sedang meracau. Hidupnya berat, tak punya siapa-siapa, tak punya pekerjaan, dan tak punya uang. Tapi dia tidak gila, paling tidak belum.

Suatu malam Diki tertidur di depan sebuah toko obat Cina. Diki tidak sengaja tertidur di situ. Mungkin karena dia kelelahan berjalan, ke tempat yang dia tidak tahu. Mungkin juga karena suasana merah dari toko tersebut. Dalam tidur lelapnya, tampak kehidupan lain di mimpinya. Dia bertemu seorang bijak berjenggot, dan tentu saja dia tua. Lelaki tua dalam mimpi itu marah-marah ke Diki. “Laki-laki tidak berguna, lebih baik mati saja!” Begitulah si tua marah-marah. Diki berlutut dan memohon kepada si orang tua untuk memaafkan dia. Dia tidak pernah punya niat menjadi pecundang seperti ini. Dulu Diki memang suka main perempuan, semua hartanya habis untuk taruhan judi balap kuda, istrinya meminta cerai karena Diki selalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, anaknya pergi karena malu dengan bapaknya, semalu babi yang mempunyai bapak babi. Tapi Diki sudah menyesali semua itu. Dan semua orang harus tahu itu. Semua orang harus melihat dia telah sadar. Tapi adakah orang yang peduli. Semua orang yang dia temui saat ini sudah tidak mengenali dia lagi. Semua orang sudah buta melihat dia. Lalu kenapa orang tua itu masih marah-marah dengan dia? Siapa dia? Apakah dia tidak sadar kalau dirinya tua dan jelek? “Apa yang kamu cari sekarang, sadar dan mulailah hidup baru!” begitu si laki-laki tua itu masih berteriak. “Bagaimana caranya?” tanya si Diki. “Tanyalah rumput yang bergoyang…”

Diki tiba-tiba terbangun. Hah… tanya rumput yang bergoyang? Diki sering melihat rumput yang bergoyang. Tapi alangkah bodohnya dia karena tidak pernah terfikirkan olehnya untuk bertanya pada rumput yang bergoyang untuk memecahkan masalah hidupnya. Tentu saja bertanya pada rumput yang bergoyang tidak membutuhkan ongkos. Pernah Diki pergi ke dukun untuk bertanya tentang nasibnya. Ongkosnya mahal dan tidak mujarab. Diki sampai berfikir bahwa dukun itu palsu. Dan sampailah Diki pada kesimpulan bahwa semua dukun itu berbohong, mereka cuma pura-pura bisa meramal nasib orang. Dengan dasar itu pula Diki pernah pura-pura menjadi dukun, tapi tidak laku. Ah… kembali ke rumput yang bergoyang, Diki tinggal menemukan rumput yang bergoyang, tentu saja yang segar dan hijau.

Sekarang masih larut malam. Diki berfikir untuk malam-malam ini bertanya dengan rumput yang bergoyang. Tapi selarut malam segelap ini, dimana dia bisa menemukan rumput yang bergoyang yang berwarna hijau segar? Malam biasanya mengubah warna hijau menjadi gelap dan tidak segar. Mungkin besok pagi saja Diki mencari rumput yang bergoyang.

Besoknya Diki berburu rumput yang bergoyang. Dia berjalan menuju ke sebuah peternakan milik seorang wanita tua. “Lady Ranch”. Dia berlari sekuat tenaga menuju sebuah lapangan rumput hijau segar. Larinya terhenti ketika tiba-tiba serombongan sapi-sapi secepat kilat mendahului dia dari belakang dan menghabiskan semua rumput yang ada. Diki tertunduk lesu. Dia terjatuh. Dia tutupi mukanya dengan kedua tangannya. Menangislah Diki tersedu-sedu. “Kenapa semua orang, ah termasuk semua sapi begitu kejam kepada diriku. Di mana aku akan bertanya lagi…!”

Diki berjalan perlahan tanpa tujuan. Tangannya gontai bergoyang goyang. Lambat laut Lady Ranch sudah tidak tampak lagi dari pandangannya. Tak tampak satupun rumput di depan mata Diki. Kalaupun ada adalah rumput-rumput kecil yang tidak bisa bergoyang. Diki bertanya pada rumput-rumput kecil itu, “di mana aku bisa menemukan saudara kalian yang bisa bergoyang…?” Entah kenapa rumput-rumput itu diam tidak menjawab. Mungkin karena melihat penampilan Diki yang kumal, rumput-rumput itu enggan menjawab.

Malam hari Diki sampai di sebuah pantai. Dia memutuskan untuk istirahat dan tidur. Dia berrencana untuk melanjutkan perjalanan keesok harinya, menuju ke suatu tempat yang dia juga tidak tahu, hanya mengikuti instingnya untuk menemukan rumput hijau yang bergoyang. Tertidurlah Diki dengan nyenyak. Dia berusaha untuk bermimpi dan bertemu orang tua pemarah yang bijak yang pernah ditemui di mimpi sebelumnya. Usaha yang sia-sia karena dia tetap tidak bisa bermimpi. Harapan Diki untuk bertemu dengan laki-laki tua dan bertanya di mana dia bisa bertemu rumput yang bergoyang tampaknya akan sia-sia. Ah, lupakan saja kesusahan malam ini dan malam-malam sebelumnya, Dik.

Esok harinya Diki bangun agak kesiangan. Di tempat ia bangun sudah ramai dikunjungi orang-orang yang berrekreasi di pantai. Tiba-tiba dia ditendang oleh beberapa anak kecil. “Dasar pemalas, jam 10 baru bangun tidur…”, teriak anak-anak. Dia diam saja, tak peduli apa kata anak-anak itu. Diki menuju satu sudut teluk yang ada batu besar. Di duduk di atas batu besar itu sambil melihat ke arah laut lepas. Rambutnya terkurai ke belakang oleh angin laut. Sambil sedikit memejamkan matanya, Diki memikirkan nasibnya yang tidak jelas. Terus saja berfikir, dan dia masih memiliki harapan dengan mencari rumput yang bergoyang. Diki masih memikirkan dimana dia akan menemukan rumput yang bergoyang itu. Tiba-tiba saja dari arah laut ada sebuah tombak melayang ke arah Diki. Tanpa sempat menghindar, tombak itu mengenai lengan Diki. Tombak yang menancap itu adalah tombak ikan. Begitu sakitnya Diki menahan, dan Diki tak kuat lagi sampai akhirnya dia pingsan.

Diki tersadar. Dia tidak tahu ada di mana sampai akhirnya dia melihat banyak petugas berseragam putih yang menandakan Diki ada di rumah sakit. Masih lelah dan lemas, dia menoleh ke samping tempat tidurnya dan dia melihat sesosok wajah tua lusuh berada di ranjang sebelah ranjangnya. Seorang laki-laki umurnya sekitar 60 tahunan. Dia tersenyum terus ke arah Diki. Diki salah tingkah terus menerus dilihat oleh pak tua itu.

Tertidur Diki entah untuk seberapa lama, sampai akhirnya dia dibangunkan oleh pak tua yang ada di sebelahnya.
“Hey, bangunlah. Kenapa kamu tidur terus?” kata pak tua itu.
“Karena aku sakit, sudahlah pak, biarkan aku tidur…!”
“Kamu tidak sesakit itu kan?” pak tua itu masih bertanya.
“Apa maksudmu, lihat lenganku… dibalut perban. Lenganku kena tombak!”
“Mestinya yang diperban adalah hatimu…otakmu diberi penisilin, bukan lenganmu!” pak tua itu memulai pembicaraan yang membuat Diki tertarik.
“Apa maksud bapak? Saya baik-baik saja, well, kecuali dengan lengan saya tentunya. Kenapa bapak berkata demikian?”

Tanya jawab antara pak tua dengan Diki terus berlangsung. Pak tua tetap memaksa bahwa ada yang tidak beres dengan Diki selain lengannya. Sementara Diki tetap memaksakan apa yang dia katakan bahwa dia baik-baik saja kecuali lengannya. Terus-terus sampai bermenit-menit.

“oke…oke…hidupku hancur!” Diki mulai menyerah.
“Aku tahu, itu sebabnya aku tetap berteguh…”
“tapi aku yakin aku akan memperbaikinya, segera setelah aku keluar dari rumah sakit!”

“…kenapa tidak sekarang?” pak tua memberikan penekanan pada kata-katanya yang terakhir.
“…bagaimana mungkin, bagaimana caranya…?” Diki mulai kesal dengan obrolan ini dan merasa pak tua itu sok tau dan mulai mencampuri urusannya. Mereka bahkan tidak saling mengenal, tahu namanya saja tidak.
“Bapak ini siapa sih? Bapak bukan orang tua saya, bahkan kita belum pernah bertemu sebelumnya…” Diki menunjukkan kekesalannya pad orang tua itu.

“Aku akan mulai penjelasan ini bukan dari perkenalan, tapi dari sebuah konklusi simpel!” kata pak tua dengan serius, seserius perkataan-perkataan sebelumnya.

“Segala sesuatu dimulai dari sebuah pemikiran dan diikuti oleh keyakinan. Keyakinan didasari oleh keinginan. Coba sekarang sebutkan apa keinginanmu saat ini.!”

Diki menjawab, “…aku ingin menjadi kaya saat ini!”
“Terus berfikir, berharap dan yakinlah dengan keinginanmu itu, mulai dari sekarang! Aku katakan sekali lagi, mulai dari sekarang!” pak tua itu berbicara keras dan tegas.
“Well,” kata pak tua, “sekarang sudah pukul 13.13, aku harus pergi sekarang!”

“Apa? Begitu saja… mana solusi dari permasalahanku. Kalau cuma bicara begitu aku juga bisa… E e e, kemana kau… Bapak benar-benar pergi? Ayolah, bapak yang memulai pembicaraan, kenapa mengakhiri dengan cara begini?” Diki kebingungan.

“Hey, ah… dia benar-benar pergi…” aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kulihat ranjang yang pernah dia tiduri. Kosong, sepi. Kulihat bagian samping ranjang itu dan terlihat sebuah papan nama pasien,
“Nama Pasien: Rumput Yang Bergoyang
Alamat: Surga dan Neraka
Nama Penyakit: Prtio Gerho Brewqast Cvart”

Cibubur, 5 Juli 2006
Eftianto, pencatat seni muda

From → (4) KARYA CERPEN

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: