Skip to content

Babak Baru Korupsi di Indonesia (Bag I)

November 13, 2007

Pernah saya berkelakar dengan beberapa teman saya tentang korupsi di Indonesia saat ini. Bayangkan kalau anda sedang menyetel CD di rumah anda. Pertam-tama dengan volume sedang sehingga musik yang keluar dari speaker terasa enak. Tapi begitu jiwa anda sedang galau atau sedang sedikit gila, volume akan anda naikkan, tetanggapun agak sedikit terganggu. Semakin gila jiwa anda, volume akan terus dinaikkan, terus, terus, sampai tetangga marah. Masih kurang juga, level volume anda naikkan sampai mentok–sampai level volume mencapai ‘are you crazy?’. Nah, bayangkan saja korupsi di negeri ini sudah sampai pada level ‘are yout crazy?’.

Sama seperti ketika musik di CD anda setel terlalu keras–dengan musik yang sangat berisik pula, tetangga di sekitar anda akan terganggu, marah, mendoakan yang jelek-jelek kepada anda. Ada yang reaktif dan menyumpah-nyumpah anda tepat di hadapan anda. Tetapi ada juga yang hanya nggrundel. Ada juga yang membalas dengan menyetel musik lebih keras–tapi sayang CD player anda lebih bagus, jadi balasan tetangga tidak ngefek. Semakin anda egois, semakin nikmat anda rasakan. Beberapa kebutuhan anda terpuaskan.

Apa bedanya dengan korupsi? Silahkan interpretasikan sendiri. Yang akan saya bahas adalah bagaimana sebuah korupsi di Indonesia hanya menjadi sebuah kata-kata yang tidak bermakna. Seorang koruptor akan berteriak-teriak anti korupsi kalau semua orang bicara anti korupsi. Lha… kalau semua bicara anti korupsi, pelaku korupsinya siapa? Jawabannya adalah kita semua. Kita semua pasti pernah berperan dalam korupsi. Pernahkah kita tidak berurusan dengan birokrasi? Pernahkah kita tidak membuat KTP? Pernahkah kita tidak berurusan dengan polisi? Kita semua adalah tim sukses korupsi di Indonesia.

Berdosa? Tentu saja. Tapi inilah dahsyatnya bangsa kita yang bodoh ini. Melakukan korupsi saja sampai tidak terasa. Emang gue korupsi? Mana buktinya. Saking sudah biasa melakukan hal-hal seperti itu, korupsi sudah berganti pengertian. Pegawai Kecamatan yang menerima fee atas pembuatan KTP tidak dibilang korupsi–karena dalam pengertian mereka hal itu merupakan keharusan. Itulah keuntungan menjadi pegawai negeri. Wow… Alangkah berdosanya kita kalau membiarkan anak-anak kita berkarir di birokrasi yang berarti juga menciptakan koruptor-koruptor baru.

Nah, pada bagian selanjutnya saya akan membahas lebih detil dengan contoh-contoh kasus nyata dan dalam bentuk kecil yang selalu kita alami. Kecil-kecil juga korupsi, dan dosanya juga dosa korupsi. Dalam pandangan saya sebagai orang muda korupsi sangat lekat dengan penyakit psikologis, yaitu egois dan ketidakpedulian. Dan ini kan penyakit yang sangat berbahaya. Bagaimana menikmati hidup kalau harus orang-orang di sekililing kita saling tidak peduli. Maka, segera akhiri tindakan-tindakan bodoh ini. Serahkan kepemimpinan pada generasi muda yang bersih dan belum terkontaminasi dengan hal-hal jorok seperti ini. Bubarkan lembaga birokrasi. Dan bentuk lembaga birokrasi baru yang steril. Bubarkan sekolah kedinasan (semua sekolah kedinasan bobrok mulai dari pendaftaran yang sarat kolusi, sampai proses belajar yang hancur lebur tidak bernurani). Kalau roda kehidupan itu selalu berputar, posisi bangsa Indonesia sekarang ada di titik paling bawah. Maka, sudah saatnya kita putar sedikit demi sedikit ke arah atas (ingat, roda tidak akan berputar kalau tidak ada yang menggerakkan).

…to be countinue

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: