Skip to content

ANALISIS: S-O-P PEDAGANG MAKANAN

November 13, 2007

Berdasarkan pengalaman di lapangan, berikut bisa aku simpulin beberapa SOP (Standard Operational Procedure) dari pedagang-pedagang makanan jalanan:

1. Pecel Lele, SOP nya adalah “Pelanggan harus mengatakannya paling sedikit 2 kali.” Penjelasannya begini: Pelanggan datang, maka oleh penjual akan ditanya, “Pesen apa mas?”. Pelanggan akan menjawab, “…lele 2, digoreng kering!”. 10 menit kemudian, pesanan belum juga dibuatkan. 5 menit kemudian, si penjual bertanya lagi, “…Pesen apa mas?” Seolah-olah dia belum pernah tanya sama sekali. Begitulah SOP penjual lele.

2. Warteg (Warung Tegal), SOP nya adalah “…Mas, minumnya pake es, nggak?” TIdak usah bingung dengan pertanyaan ini. Kalau ada pertanyaan begini, si pelanggan akan bilang, “…pake!”. Lalu penjualnya akan bertanya lagi, “…es apa mas?”. Memang kedengaran bodo, tapi memang begitu SOPnya. Bisa aja kan, si penjual (yang kebanyakan gadis-gadis muda dengan logat Jawa) langsung bilang: “minumnya apa, mas!” Iya kan?

3. Warung Kuningan (mirip warteg), SOPnya adalah Penjual harus salah memberikan order pelanggan. Penjelasannya adalah ketika pelanggan meminta lauk telur dadar 2 buah, maka SOP untuk penjual adalah mengambilkan perkedel jagung, sambil bertanya, “perkedelnya berapa mas?”. Jangan marah, wong memang begitu bunyi SOPnya.

4. Sate Madura, SOPnya adalah “…Te… Te…!”. Te harus diucapkan dengan lantang dan sekeras-kerasnya. Keras dan lantang adalah nomor satu dan dua. Sedangkan pelanggan mengerti apa yang dijual, adalah nomor tujuh ratus. Bisa saja pelanggan mengira dia menjual “Teh”. Tapi memang begitu SOPnya.

5. Bakpau, SOP nya adalah “…Wow wow… Wow wow!” Satu hal yang harus diingat dalam SOP ini, adalah mengatakannya dengan sepelan mungkin dengan nada serendah mungkin. Karena suaranya pelan, beberapa pedagang berimprovisasi dengan merekam suaranya dan menyetel menggunakan tape sambil berputar keliling perumahan. Jadi kalau pagi-pagi buta ada suara tidak jelas, atau kurang lebih ada suara …wow wow… dari tidak jelas menjadi jelas dan tidak jelas lagi, kemungkinan itu adalah penjual Bakpao. Atau bisa juga ada orang gila yang sedang melihat Bu RT mandi, jadi dia bilang … wow…wow!

6. Tukang Roti, SOPnya adalah Buatlah warga perumahan terbangun dari tidur nyenyaknya, sedini mungkin. Penjelasannya, kebanyakan warga perumahan berprofesi sebagai karyawan kantor. Mereka enak-enakan tidur di Subuh hari. Mereka (sang karyawan) tidak merasakan susahnya cari duit. Sebagai bentuk toleransi, mereka seharusnya bangun pagi-pagi dan beli Roti. Oleh karena itu pedagang Roti harus membangunkan warga perumahan, bagaimanapun caranya. Salah satunya dengan membuat sirine norak yang merekam suara anak-anak perempuan menyanyi diiringi kibord palsu bertuts 12. Misalnya, Tong teng teng teng, roti… roti. Setiap 6 detik, suara itu akan berulang-ulang, terus-terus-terus, sepanjang perumahan. Kemudian berputar mengelilingi perumahan sekali lagi. Begitu selesai mengelilingi perumahan, akan diulang lagi mengelilingi perumahan, sekali lagi (Mohon sekali laginya dikalikan 12). Untuk menunjang program toleransi ini, pedagang roti diharapkan tidak hanya satu untuk satu komplek. Minimal 5 pedagang dengan setidaknya berkendaraan sepeda onthel. Setiap pedagang juga tidak boleh sama sirinenya. Semakin norak dan tidak jelas, semakin baik. Tong teng teng, roti sasasas roti, roti ya sssasas roti.

Mungkin baru segitu yang bisa dianalisis dari beberapa pedangang. Tambahan analisis tentunya akan sangat berguna untuk dunia ilmiah yang bullshit.

Ants (Cibubur, 5 September 2006)

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: