Selesai sudah tugas Anton Apriantono sebagai Menteri Pertanian. Diantara menteri-menteri di Kabinet Indonesia Bersatu jilid I yang paling saya apresiasi atas kinerjanya adalah Bapak Anton Apriantono ini. Saya menaruh hormat lebih dikarenakan prosesnya, dibandingkan dengan hasilnya yang kebetulan juga luar biasa, yaitu berswasembada pangan untuk beberapa jenis bahan pangan tahun 2008–yang pada saat yang sama dunia justru mengalami penurunan produksi 5 %. Memang luar biasa. Bisa swasembada pangan (beras utamanya) pada saat ini merupakan hal yang hampir mustahil. Apalagi ketika Anton Apriyantono baru terpilih menjadi Menteri Pertanian, Indonesia adalah negera importir beras terbesar. Kita tahu ribuan hektar lahan pertanian berubah menjadi perumahan, mal, dan lain-lain. Di saat areal pertanian berkurang, jumlah penduduk semakin membengkak, eh, justru kita berswasembada beras. Prestasi ini juga lebih luar biasa dibandingkan zaman Pak Harto yang ketika itu swasembada hanya 90 % dan sisanya impor.
Sebagai seorang pejabat negara, Anton Apriantono adalah sosok yang sangat sederhana. Ketika diangkat menjadi menteripun beliau baru selesai mencicil rumahnya di Bogor. Makanya oleh media beliau dijuluki menteri termiskin. Ketika jadi Menteripun beliau tetap sederhana. Berdasarkan tulisan-tulisan yang pernah saya baca, Pak Anton tidak pernah mau naik pesawat di kelas Bisnis, selalu ekonomi, kecuali jika kelas ekonomi sudah habis. Ketika berkunjung ke luar daerah pun beliau tidak mau menginap di hotel berbintang lebih dari bintang 3. Bahkan beliau lebih memilih menginap di rumah petani dari pada di hotel. Luar biasa. Prinsip beliau, pemimpin harus menjadi teladan bawahannya. Apalagi departemen yang beliau pimpin menaungi jutaan petani yang hidupnya di bawah garis kemiskinan.
Jika dibandingkan dengan menteri yang lain, Anton Apryantono jelas yang paling sederhana. Di rumah dinasnya di Widya Chandra hanya akan ditemui 2 buah mobil, yaitu Camry RI 24 sebagai mobil dinas dan Kijang tahun 1994. Bayangkan dengan menteri lain, apalagi Abu Rizal Bakri.
Walaupun sekarang sudah tidak menjadi menteri lagi, saya secara pribadi sangat menaruh hormat kepada Bapak. Saya berharap pengganti Bapak, yang kemungkinan akan dijawab oleh Bapak Suswono–yang saya tahu reputasinya sangat bersih dan antikorupsi, bisa melanjutkan program-program yang sudah bapak buat.
Berikut beberapa tulisan menarik mengenai Anton Apriantono:
2. http://www.beritakota.co.id/bk-minggu/lakon/7985-anton-apriantono.html
3. http://nijipks.blog.friendster.com/2009/03/anton-apriyantono-arsitek-swasembada-indonesia/













Ini ilustrasi saja. Saya sarikan dari banyak kejadian.
Apa yang ada dalam fikiran seorang Bapak yang mengajak anaknya (baca: memaksa) ikut naik sepeda motor tanpa helm, kemudian mengendara melawan arus? Ya, sering sekali kan kita lihat bapak membonceng anak dan melanggar lalu lintas? Ck ck ck. Apa bedanya dengan mempertontonkan pemerkosaan ibu muda di depan anaknya sendiri. Bayangkan coba, seorang anak yang sedang di’brainwashing’, dicekok’i ideologi salah dengan ketelanjangan. Nilai apa coba yang sedang diajarkan orang tua kepada anaknya. “Gini nak, peraturan dibuat untuk dilanggar”, “Yah, kalo sedikit, melanggar mah gak papa!”, “kalo gak ada polisi, melanggar aturan gak papa”.
Damn, itukah family value yang diajarkan orang tua kepada anaknya? Setahu saya mengajarkan pendidikan anak itu sulit sekali. Maka cara terefektif adalah dengan teladan (contoh). Lha ini, sudah diteladani dengan melanggar lalu lintas, tidak hanya disuruh melihat, diajak melakukan bersama-sama lagi. Persis seperti seorang Bapak memperkosa seorang ibu muda (cerita yang diulang) dihadapan anaknya, kemudian bersama-sama Bapak mengajak anak itu untuk memperkosa ibu muda itu. Apa bedanya coba? Value itu akan terrekam secara psikologis dan akan terbawa sampai mati. No wonder sekarang korupsi bagaikan tidak berdosa, meminta uang bagaikan hobi, suap dan gratifikasi seperti makan makanan supplemen, gak bisa diatur seperti rutinitas bangun tidur. Bagaimana tidak, value jelek dari orang tua tidak hanya dipertontonkan, tetapi ‘dipaksakan’ juga untuk dilaksanakan secara berjamaah.




Recent Comments