Apa yang ada dalam fikiran seorang Bapak yang mengajak anaknya (baca: memaksa) ikut naik sepeda motor tanpa helm, kemudian mengendara melawan arus? Ya, sering sekali kan kita lihat bapak membonceng anak dan melanggar lalu lintas? Ck ck ck. Apa bedanya dengan mempertontonkan pemerkosaan ibu muda di depan anaknya sendiri. Bayangkan coba, seorang anak yang sedang di’brainwashing’, dicekok’i ideologi salah dengan ketelanjangan. Nilai apa coba yang sedang diajarkan orang tua kepada anaknya. “Gini nak, peraturan dibuat untuk dilanggar”, “Yah, kalo sedikit, melanggar mah gak papa!”, “kalo gak ada polisi, melanggar aturan gak papa”.
Damn, itukah family value yang diajarkan orang tua kepada anaknya? Setahu saya mengajarkan pendidikan anak itu sulit sekali. Maka cara terefektif adalah dengan teladan (contoh). Lha ini, sudah diteladani dengan melanggar lalu lintas, tidak hanya disuruh melihat, diajak melakukan bersama-sama lagi. Persis seperti seorang Bapak memperkosa seorang ibu muda (cerita yang diulang) dihadapan anaknya, kemudian bersama-sama Bapak mengajak anak itu untuk memperkosa ibu muda itu. Apa bedanya coba? Value itu akan terrekam secara psikologis dan akan terbawa sampai mati. No wonder sekarang korupsi bagaikan tidak berdosa, meminta uang bagaikan hobi, suap dan gratifikasi seperti makan makanan supplemen, gak bisa diatur seperti rutinitas bangun tidur. Bagaimana tidak, value jelek dari orang tua tidak hanya dipertontonkan, tetapi ‘dipaksakan’ juga untuk dilaksanakan secara berjamaah.
Hmm, value lain yang saya tidak pernah bisa mengerti sebagai value ‘baik’ atau wisdom dari orang tua kebanyakan adalah “Son, tolong belikan bapak rokok!”. Seorang bapak minta dibelikan rokok kepada anaknya yang masih duduk di bangku SD. Anak di bawah umur disuruh beli rokok… Mereka tidak boleh menghisap rokok, tapi setiap hari dipaksakan membeli rokok. Sudah begitu, diperbolehkan lagi oleh penjual rokoknya. Dasar orang-orang gila. Untung keluarga saya tidak ada yang merokok.
Ada lagi. Jam 7 malam seorang Ibu memaksa anaknya untuk belajar. Tidak boleh nonton teve. Sementara Ibu dan Bapaknya asyik nonton sinetron misteri (yang menggunakan animasi nanggung dan anak, ibu, pembantu, nenek sama umurnya, dan hal-hal aneh lainnya). Ini value apa coba. Beruntung anak-anak yang bisa survive dari neraka ini dan bisa lulus sekolah dengan baik. Bagaimana orang tua macam ini bisa bertanggung jawab atas amanat Tuhan berupa anak. Bukankah orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak dengan ‘value’ yang baik supaya anak bisa tumbuh dewasa menjadi orang baik? Untung saya tidak dibesarkan dalam keluarga bejat seperti itu.
And the young we can’t lose hope even we can’t see beyond the day, the wisdom that the old can’t give away. Kata-kata Eddie Vedder yang saya ubah sedikit. Yah, sebagai generasi muda, justru saya memaksakan teman-teman memiliki kedewasaan yang jauh lebih tinggi dari orang-orang tua yang wisdom-nya nanggung. Kalau tidak ada yang bisa diteladani, segera beranjak berfikir dan temukan wisdom yang paling logis.
Cibubur, 13 Mei 2008
Recent Comments